Waktunya Jujur: Soeharto Memang Layak Jadi Pahlawan Nasional

Andi Besse Nabila Saskia
Oleh Andi Besse Nabila Saskia
(CEO PT Menit Indonesia Cerdas)
Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto bukan hanya bentuk penghargaan, tapi cermin kedewasaan bangsa dalam menilai sejarah—menghargai jasa besar tanpa menutup mata.
menitindonesia, OPINI — Di tengah perdebatan tentang kelayakan almarhum Presiden Soeharto mendapat gelar Pahlawan Nasional, bangsa ini sesungguhnya sedang diuji: apakah kita mampu melihat sejarah dengan jernih, atau terus terperangkap dalam luka dan prasangka masa lalu.
BACA JUGA:
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar: Indonesia–China Bukan Hanya Mitra, Tapi Keluarga Ilmiah
Soeharto pernah berkuasa, dan dalam kekuasaan yang panjang itu, tentu banyak jasanya yang tak boleh dilupakan. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang melupakan jasa pemimpinnya — bangsa besar adalah yang mampu menilai secara utuh, bukan sepotong-sepotong.

Penyelamat Republik dari Krisis 1965

Ketika negeri ini nyaris terpecah akibat tragedi G30S 1965, Soeharto tampil sebagai figur yang mengembalikan stabilitas nasional. Ia menumpas kekacauan dan mencegah Indonesia terjerumus dalam perang ideologi.
Banyak sejarahwan menyebut, jika bukan karena langkah cepat dan tegasnya, Indonesia mungkin telah menjadi republik yang hancur karena konflik horizontal dan infiltrasi ideologi ekstrem. Dalam konteks itu, Soeharto adalah penjaga keutuhan bangsa pada masa paling genting dalam sejarah modern Indonesia.

Arsitek Pembangunan Nasional

Selama lebih dari tiga dekade, Indonesia berlari kencang di bawah kebijakan pembangunan yang terencana. Di masa Soeharto, Indonesia mencapai swasembada beras tahun 1984, diakui dunia lewat penghargaan FAO. Ia membangun jutaan hektar sawah, ratusan bendungan, sekolah dasar Inpres, dan jaringan puskesmas di seluruh negeri.
Rakyat di desa-desa mengenal listrik, jalan beraspal, dan televisi untuk pertama kalinya. Program Transmigrasi membuka harapan baru bagi pemerataan.
Kita mungkin bisa berdebat tentang gaya pemerintahannya, tetapi tak ada yang bisa menyangkal bahwa infrastruktur dan fondasi ekonomi bangsa ini berdiri di atas pondasi Orde Baru.
IMG 20251110 WA0068 11zon
Ilustrasi Soeharto

Pendidikan, Kesehatan, dan Pemberdayaan Rakyat

Soeharto menanamkan keyakinan bahwa pembangunan manusia sama pentingnya dengan pembangunan fisik. Program Wajib Belajar, Keluarga Berencana, Puskesmas, dan Inpres Sekolah Dasar membuat jutaan anak Indonesia bisa mengenyam pendidikan.
BACA JUGA:
Taruna Ikrar Bangun Diplomasi Kesehatan: Kolaborasi Riset Stroke Indonesia–Tiongkok di Beijing Tiantan Hospital
Angka melek huruf meningkat pesat, dan usia harapan hidup naik dari 45 tahun (1967) menjadi lebih dari 65 tahun (1998). Itu bukan angka statistik; itu adalah bukti bagaimana negara hadir di tengah rakyat.

Diplomat yang Disegani Dunia

Melalui politik luar negeri bebas aktif, Soeharto mengokohkan posisi Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan dihormati di dunia internasional. Ia turut mendirikan ASEAN, menjadi jembatan dialog antara Barat dan Timur, dan menjaga kemandirian politik luar negeri Indonesia di tengah ketegangan Perang Dingin.
Selama masa kepemimpinannya, Indonesia dikenal sebagai negara stabil, dengan diplomasi ekonomi yang kuat dan kepemimpinan yang disegani di Asia Tenggara.

Bangsa yang Menghargai Jasa Pemimpinnya

Menjadikan Soeharto Pahlawan Nasional adalah bentuk kebesaran jiwa bangsa ini mengakui jasa besar yang tak terbantahkan. Kita perlu mendidik generasi muda bahwa menghargai jasa bukanlah bentuk pengkultusan, melainkan bagian dari kedewasaan berbangsa.
Soeharto telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Indonesia — yang baik, yang buruk, semuanya menjadi pelajaran. Menghargai jasanya berarti menegaskan bahwa bangsa ini tidak hidup dari dendam, tetapi dari kesadaran sejarah.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya,” kata Bung Karno. Maka, menghormati jasa Soeharto adalah bagian dari menghormati sejarah bangsa itu sendiri.
Sebagai bagian dari generasi yang lahir di tahun 1998—era ketika nama Soeharto lebih sering disebut dalam nada kontroversi—saya memilih membuka kembali lembar sejarah dengan pikiran jernih. Semakin dalam saya membaca, semakin saya menyadari bahwa di balik segala polemik, jejaknya dalam membangun negeri ini terlalu nyata untuk dihapus. Karena itu, ketika Soeharto akhirnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, ada rasa bangga yang tumbuh—bukan karena menutup mata pada luka masa lalu, melainkan karena mengakui jasa besar yang ikut membentuk wajah Indonesia hari ini. (*)