Jemaah An-Nadzir Tetapkan Idul Adha 26 Mei, Lebih Awal Sehari dari Pemerintah

Jemaah An-Nadzir gowa. (Ist)
menitindonesia, GOWA – Jemaah An Nadzir kembali menetapkan Hari Raya Idul Adha lebih awal dibanding pemerintah. Tahun ini, komunitas yang bermukim di Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, menetapkan 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah jatuh pada Selasa, 26 Mei 2026.
Keputusan tersebut diumumkan usai musyawarah yang digelar di Pondok An Nadzir, Jumat (22/5/2026), berdasarkan hasil pemantauan dan perhitungan tim pemantau bulan yang dilakukan di sejumlah wilayah Indonesia.
Pimpinan An Nadzir, M Samiruddin Pademmui, mengatakan berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan pihaknya, 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah dimulai pada Ahad, 17 Mei 2026.
Dengan dasar tersebut, pelaksanaan Salat Idul Adha ditetapkan berlangsung pada Selasa, 26 Mei 2026 pukul 07.00 Wita.
“1 Dzulhijjah 1447 H/2026 M terhitung mulai Ahad 17 Mei 2026. Sehingga 10 Dzulhijjah 1447 H jatuh pada Selasa 26 Mei 2026,” ujar Samiruddin.

BACA JUGA:
Salat Iduladha Maros Digelar di Lapangan Pallantikang, Siapkan Lokasi Cadangan Jika Hujan

Menurutnya, penetapan awal bulan Dzulhijjah dilakukan melalui metode hisab dan rukyat yang selama ini diajarkan oleh pendiri sekaligus imam An Nadzir, KH Syamsuri Abdul Madjid.
Metode tersebut menggabungkan pengamatan fenomena astronomi dengan pendekatan perhitungan yang menjadi pedoman komunitas tersebut dalam menentukan awal dan akhir bulan hijriah.
“An Nadzir dalam memantau, menghitung, kemudian menetapkan awal dan akhir bulan, selain mengacu pada dalil naqli juga dalil aqli yang sumbernya diajarkan oleh Guru dan Imam An Nadzir KH Syamsuri Abdul Madjid,” jelasnya.
Dalam proses pemantauan, tim An Nadzir mengaku mengamati sejumlah tanda alam, termasuk fase bulan purnama, bulan sabit tua, hingga fenomena yang mereka sebut sebagai “bulan bersusun tiga”.
Pengamatan tersebut dilakukan menggunakan kain tipis berwarna hitam untuk melihat posisi bulan di ufuk timur pada 14 Mei 2026.
“Pada 27 Dzulqaidah 1447 H, Kamis 14 Mei 2026, melihat bulan dengan kain tipis hitam di ufuk timur, nampak bulan bersusun tiga, aslinya satu dan bayangannya dua,” kata Samiruddin.
Ia menambahkan, pergantian bulan atau ijtima terjadi secara global dan waktunya dapat berbeda sesuai wilayah masing-masing.
Berdasarkan hasil pemantauan dan musyawarah tim pemantau bulan, An Nadzir menetapkan pergantian bulan dari Dzulqaidah ke Dzulhijjah terjadi pada Ahad, 17 Mei 2026.
“Pada hari Ahad 17 Mei 2026 terjadi pergantian bulan (konjungsi/ijtima/new moon/hilal) dari Dzulqaidah ke Dzulhijjah pada jam 04.03 Wita,” ujarnya.
Penetapan tersebut membuat pelaksanaan Idul Adha versi An Nadzir berlangsung satu hari lebih awal dibanding keputusan pemerintah.
Sebelumnya, pemerintah melalui sidang isbat Kementerian Agama menetapkan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Keputusan serupa juga telah diumumkan oleh Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab dalam penentuan awal bulan hijriah.
Perbedaan penetapan hari besar keagamaan oleh An Nadzir bukan kali pertama terjadi. Komunitas tersebut selama ini memiliki metode pengamatan dan perhitungan sendiri dalam menentukan kalender hijriah, termasuk awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha.