Prof. Dr. Taruna Ikrar menyampaikan pidato ilmiah usai menerima gelar Professor Kehormatan bidang Advanced Cell Gene Therapy Medicine di UTMSPACE Services Malaysia. Dalam pidatonya, Taruna Ikrar menegaskan dunia kesehatan sedang memasuki era baru inovasi pengobatan berbasis terapi genetik, stem cell, dan artificial intelligence.
Prof Taruna Ikrar menerima Professor Kehormatan bidang Advanced Cell Gene Therapy Medicine di UTM Malaysia dan menegaskan Indonesia siap masuk panggung utama inovasi kesehatan dunia.
menitindonesia, KUALA LUMPUR — Di sebuah forum akademik internasional di Malaysia, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., berbicara tentang sesuatu yang jauh melampaui laboratorium, obat-obatan, dan dunia akademik.
Ia berbicara tentang harapan manusia untuk hidup lebih lama, lebih sehat, dan terbebas dari penyakit yang selama berabad-abad dianggap mustahil disembuhkan.
Pidato itu disampaikan saat Taruna Ikrar menerima Professor Kehormatan atau Adjunct Professor dalam bidang Advanced Cell Gene Therapy Medicine di UTMSPACE Services Malaysia. Momentum tersebut menjadi simbol pengakuan internasional terhadap kiprah akademik dan kepemimpinan Taruna Ikrar di bidang farmakologi dan inovasi kesehatan modern.
“Pharmacology is about one simple thing: Saving lives,” ujar Taruna Ikrar di hadapan pejabat Malaysia, akademisi, dan peserta wisuda internasional.
Kalimat itu sederhana, tetapi menjadi fondasi utama dari seluruh pidatonya.
Di tengah perkembangan artificial intelligence, terapi genetik, dan revolusi bioteknologi dunia, Taruna mengingatkan bahwa inti dari seluruh kemajuan kesehatan tetap satu, yakni menyelamatkan manusia dari penderitaan.
Puncak emosional pidato itu muncul ketika ia menceritakan kisah Emily Whitehead, anak penderita leukemia asal Amerika Serikat yang menjadi pasien pertama terapi CAR-T Cell di dunia.
Dokter sudah menyerah. Kemoterapi gagal. Semua pengobatan tak lagi memberi harapan. Namun sains memilih untuk tidak berhenti.
Para ilmuwan merekayasa sel imun Emily agar mampu mengenali dan menyerang kanker di tubuhnya sendiri. Hasilnya menjadi tonggak sejarah baru pengobatan modern. Lebih dari satu dekade kemudian, Emily tetap hidup dan bebas kanker.
Bagi Taruna Ikrar, kisah itu menunjukkan bahwa dunia sedang memasuki babak baru ilmu kesehatan.
Gene therapy, stem cell therapy, precision medicine hingga artificial intelligence dalam layanan kesehatan, menurutnya, bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan realitas yang sedang berkembang sangat cepat.
Indonesia Menuju Panggung Besar Inovasi Kesehatan Dunia
Di balik narasi ilmiah tersebut, Taruna sebenarnya sedang mengirim pesan strategis yang jauh lebih besar.
Indonesia, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi pasar produk kesehatan global. Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia, memiliki peluang menjadi pusat baru pengembangan bioteknologi dan industri farmasi dunia.
Pesan itu terasa relevan dengan posisi Indonesia yang mulai mendapat perhatian dunia internasional setelah BPOM RI memperoleh pengakuan WHO Listed Authority (WLA), sebuah standar global yang menempatkan otoritas regulasi Indonesia semakin diperhitungkan.
Di titik itu, BPOM tidak lagi dipandang hanya sebagai lembaga pengawasan administratif, tetapi bagian penting dari ekosistem inovasi kesehatan global.
Taruna juga menegaskan bahwa regulasi kesehatan bukan semata soal aturan birokrasi. “Regulations are about protecting hope,” katanya.
Baginya, setiap obat, vaksin, dan terapi yang diterima masyarakat harus melalui proses ilmiah ketat karena di dalamnya terdapat nyawa manusia dan kepercayaan publik yang harus dijaga.
Pidato itu kemudian ditutup dengan pesan kuat untuk generasi muda agar terus belajar, terus beradaptasi, dan tidak terjebak dalam zona nyaman.
“One of the greatest dangers in life is not failure. It is becoming too comfortable,” ujar Taruna.
Pidato tersebut akhirnya bukan hanya berbicara tentang farmakologi atau dunia medis, tetapi tentang keyakinan bahwa ilmu pengetahuan, keberanian, dan inovasi dapat mengubah masa depan peradaban manusia.