Akbar Endra aktif bekerja sebagai Staf Ahli Kepala BPOM RI Bidang Medsos dan Humas.
Oleh Akbar Endra
Di balik reshuffle Menteri Keuangan, ada pertanyaan yang lebih besar: apakah Purbaya gagal meyakinkan pasar terhadap arah ekonomi Indonesia?
menitindonesia, OPINI — Dalam politik, jabatan bisa berakhir karena skandal, konflik, atau kegagalan yang kasat mata. Namun dalam ekonomi, seorang Menteri Keuangan bisa kehilangan kursinya bukan karena melanggar aturan, melainkan karena gagal menjaga sesuatu yang tidak terlihat: kepercayaan.
Itulah yang tampaknya terjadi pada Purbaya Yudhi Sadewa.
Ketika Presiden Prabowo Subianto menunjuk Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan yang baru, publik langsung bertanya: apa kesalahan Purbaya? Pertanyaan itu wajar. Sebab tidak ada kasus hukum. Tidak ada tuduhan penyalahgunaan kewenangan. Tidak ada pula indikator yang menunjukkan ekonomi Indonesia sedang runtuh.
Bahkan sebaliknya. Di bawah kepemimpinan Purbaya, pertumbuhan ekonomi relatif terjaga dan pemerintah tetap mampu menjalankan berbagai program prioritas nasional.
Namun pasar keuangan tidak hanya menilai hasil hari ini. Pasar hidup dari ekspektasi terhadap masa depan.
Dan di situlah persoalan mulai muncul. Sejak awal menjabat, Purbaya membawa pendekatan yang berbeda dibanding pendahulunya. Ia tampil sebagai ekonom yang percaya bahwa Indonesia harus lebih berani mengambil risiko untuk mengejar pertumbuhan yang lebih tinggi. Dalam berbagai kesempatan, ia menunjukkan keyakinan bahwa negara tidak boleh terlalu takut membelanjakan uang untuk mendorong ekonomi.
Gagasan itu secara teori tidak salah. Banyak negara berhasil tumbuh pesat karena pemerintah berani melakukan intervensi dan ekspansi fiskal. Namun keberanian selalu memiliki pasangan: kepercayaan.
Ketika pasar percaya, kebijakan agresif dianggap sebagai langkah visioner. Tetapi ketika kepercayaan mulai menurun, kebijakan yang sama dapat dibaca sebagai sumber risiko.
Dalam beberapa bulan terakhir, berbagai indikator menunjukkan munculnya kegelisahan investor. Rupiah mengalami tekanan. Arus modal asing melambat. Lembaga pemeringkat mulai memberikan sinyal kewaspadaan terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Tidak ada satu peristiwa tunggal yang memicu situasi tersebut. Yang terjadi adalah akumulasi persepsi. Persepsi bahwa pemerintah semakin longgar dalam mengelola anggaran. Persepsi bahwa defisit bergerak mendekati batas yang membuat pasar tidak nyaman. Persepsi bahwa koordinasi fiskal dan moneter tidak selalu berada dalam frekuensi yang sama.
Dan yang paling penting, persepsi bahwa komunikasi ekonomi pemerintah mulai kehilangan konsistensi.
Ketika Pasar Mulai Meragukan
Dalam ekonomi modern, persepsi sering kali memiliki kekuatan yang sama besar dengan realitas. Pasar tidak menunggu masalah terjadi. Pasar bergerak ketika mencium potensi masalah.
Karena itu, seorang Menteri Keuangan tidak hanya bertugas mengelola angka. Ia juga bertugas mengelola ekspektasi. Di sinilah tantangan terbesar Purbaya.
Sebagai ekonom, ia memiliki keberanian intelektual untuk menentang pandangan arus utama. Namun sebagai Menteri Keuangan, keberanian saja tidak cukup. Setiap pernyataan, setiap sinyal kebijakan, setiap angka yang disampaikan kepada publik memiliki konsekuensi terhadap kepercayaan investor.
Kontroversi mengenai rencana pemanfaatan laba Danantara menjadi salah satu contoh yang memperkuat keraguan tersebut. Ketika muncul perbedaan penjelasan antara pejabat negara dan institusi terkait, pasar tidak hanya mempertanyakan sebuah kebijakan. Pasar mulai mempertanyakan kualitas koordinasi.
Bagi investor global, ketidakpastian adalah musuh utama. Mereka bisa menerima defisit yang lebih besar. Mereka bisa menerima utang yang meningkat. Mereka bahkan bisa menerima kebijakan yang tidak populer. Tetapi mereka sulit menerima ketidakjelasan arah.
Dalam konteks itulah reshuffle ini menjadi penting untuk dibaca. Pergantian Purbaya dengan Suahasil Nazara tampaknya bukan pergantian figur semata. Ini adalah pesan politik dan ekonomi yang dikirim Presiden Prabowo kepada pasar.
Pesan bahwa pemerintah mendengar kegelisahan investor. Pesan bahwa disiplin fiskal tetap menjadi fondasi. Pesan bahwa stabilitas akan kembali menjadi prioritas utama.
Suahasil bukan sosok baru. Ia dikenal sebagai teknokrat yang lama berkecimpung dalam pengelolaan fiskal negara. Reputasinya dibangun melalui konsistensi, kehati-hatian, dan kemampuan menjaga komunikasi dengan pelaku pasar.
Karena itu, pengangkatannya langsung diterjemahkan sebagai sinyal positif oleh banyak pengamat ekonomi. Bukan karena Suahasil lebih pintar daripada Purbaya. Bukan pula karena Purbaya dianggap gagal total. Melainkan karena pasar melihat adanya upaya mengembalikan kredibilitas yang mulai terkikis.
Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari peristiwa ini bukan tentang siapa yang masuk atau siapa yang keluar dari kabinet. Pelajarannya adalah bahwa dalam ekonomi abad ke-21, kepercayaan telah menjadi mata uang politik yang sama berharganya dengan pertumbuhan.
Seorang Menteri Keuangan bisa berhasil menaikkan angka pertumbuhan. Ia bisa menjaga investasi tetap masuk. Ia bisa membiayai berbagai program strategis pemerintah.
Tetapi ketika pasar mulai meragukan arah kebijakan yang ditempuh, keberhasilan-keberhasilan itu sering kali tidak lagi cukup untuk mempertahankan kursi. Mungkin itulah yang terjadi pada Purbaya Yudhi Sadewa.
Bukan karena ia gagal membangun ekonomi. Tetapi karena ia gagal meyakinkan pasar bahwa ekonomi yang sedang dibangunnya akan tetap aman di masa depan.