Golkar Mencari Pemimpin (Catatan kecil untuk Musda Golkar)

Dosen Fisip Universitas Hasanuddin

Oleh : Hasrullah

MUSDA Golkar DPD I Sulsel yang memperebutkan kursi ketua  telah menjadi magnet politik kader berlambang pohon beringin. Betapa tidak, tahap pengambilan formulir cukup diminati 9 kandidat yang berasal dari 2 bupati, 3 legislator Pusat, dan 4 pengurus Golkar Sulsel.

Kursi “panas” yang akan ditinggalkan Nurdin Halid yang sudah terpilih menjadi Wakil Ketua DPP Golkar, menjadi kursi yang sangat elok untuk diperebutkan sesama kader. Yang selama ini Golkar dianggap tidak “bersuara”, kadernya di berbagai palagan di Sulsel ini, tiba-tiba Musda menjadi semarak. Betapa Kursi Ketua Golkar menjadi meruyat untuk meraih prestasi politik.

Kesembilan kandidat yang telah mendaftarkan dirinya, diantaranya: Hamka B. Kady, Supriansa, Rio Padjalangi, Taufan Pawe, Syamsuddin Hamid, Kadir Halid, Syamsu Alam Mallarangeng, Emir Baramuli, dan Abdillah Nasir, merupakan kader yang danggap mempunyai nyali dan leadership untuk menahkodai DPD Golkar Sulsel. Dan sudah dapat dipastikan, salah seorang akan terpilih.

Untuk itu, Partai Golkar yang mempunyai jam terbang yang tinggi untuk  memperbesarkan marwah partai, maka sudah sepantasnya berembuk dan memilih kader yang memang pantas untuk menaikkan performance Golkar agar tidak terjadi kehilangan muka dalam menghadapi Pilkada 2020 dan Pilpres 2024 yang akan datang. Apalagi Golkar masih dianggap menjadi “pemenang” di Sulsel, perlu dipertahankan sebagai partai the ruling class, yang konsekuensinya, ketua DPRD Sulsel masih dijabat kader Golkar.

Namun harus diakui, suara Golkar sebagai partai yang berslogan “Dari Rakyat Untuk Rakyat” dianggap mulai pudar, sehingga baik itu suara Golkar di DPRD Sulsel, maupun kader partai yang menduduki posisi kunci di kalagan pemerintahan.

Tapi harus diakui, kehadiran salah satu kader terbaik dalam menjalankan fungsinya di DPR RI, sosok Supriansa, sudah menjadikan dirinya  sebagai kader partai yang profesional dan telah  menjadi sosok komunikator politik dan news maker dalam memainkan ketokohan di tingkat nasional.

Termasuk juga, Kadir Halid, juga di Sulsel, telah menunjukkan tajinya sebagai politisi yang berhasil melakukan upaya politik dan mencetuskan Hak Angket 2019 yang telah menjadikan dirinya politisi Golkar di DPRD Sulsel yang menjalankan fungsi kontrolnya. Walaupun Hak Angket nyaris memakan korban. Tapi yang jelas Kadir telah menerok sejarah baru. Dia bersama fraksi lain di DPRD Sulsel melahirkan hak angket dengan melakukan fungsi kontrol sebagai politisi handal.

Bagaimana dengan politisi lainnya, tentu masing-masing kandidat mempunyai peluang yang sama, seperti Hamka B. Kady dan Syamsu Alam, keduanya politisi matang yang leadershipnya mumpuni. Begitu juga kader yang melakonkan dirinya sebagai pelayan public sebagai bupati, Syamsuddin dan Taufan Pawe, tentu telah teruji kepemimpinannya di dunia birokrasi. Begitu pula Emir Baramuli dan Abdillah Nasir tidak boleh dilihat sebelah mata, tentu keduanya sudah menjadi Pengurus Golkar, juga mempunyai kelebihan. Dan, Satu lagi Rio Padjalangi yang sementara duduk di kursi DPR RI, tentu juga perlu diapresiasi, karena untuk menjadi utusan partai di pusat, pasti mempunyai basis pendukung yang juga mumpuni.

Maka dari itu, Musda kali ini untuk memilih nahkoda Golkar Sulsel sudah dapat dipastikan ada diantara mereka yang terpilih menjadi ketua Golkar Sulsel. Saatnya sekarang menunjukkan dirinya bahwa dirinya yang paling layak untuk maju sebagai ketua. Tapi harus diingat, berilah kesempatan yang mau membawa partai Golkar dan menjadi partai The Ruling Class.

Maka langkah taktis harus segera dilakukan, Musda Golkar Sulsel, tidak semata-mata persyaratan yang baku dan diterapkan selama ini dalam memilih ketua, tapi harus melihat  dari kajian akademik dan empirik menghadapi partai-partai lain yang sementara ini menunjukkan tren keberhasilan . Jika Golkar Sulsel tetap eksis di daerah ini kami sarankan sebagai sosoknya berikut ; (1). Mempunyai kematangan sebagai Komunikator Politik. Karena Ketua Partai adalah pekerja politik profesional yang sebaiknya memiliki pemikiran analisis yang tajam terhadap upaya membangun citra politik yang kuat. Itu artinya, sebagai ketua partai mempunyai nyali untuk mengorganisir para kader menjadi partai yang berjuang “dari rakyat dan untuk rakyat”. (2). Ketua terpilih harus dapat menjadi “manajer partai” yang handal, dimana setiap kader marasakan manfaat untuk berpartai. Kita mencoba merubah mind set bahwa partai tidak hanya sebagai “kendaraan politik” pada saat perhelatan demokrasi. Partai Golkar yang telah menerapkan teori evolusi dan mampu bertahan hingga sekarang karena komitmen kepartaian menjadi tujuan untuk kemakmuran rakyat dan bangsa. (3)Ketua terpilih adalah pemimpin yang kuat (strong leadership), yaitu kemampuan melakukan ambisi-ambisi politik berdasarkan program kerja yang dicanangkan 5 tahun ke depan. Pemimpin yang kuat, bukan hanya melahirkan pemimpin itu sendiri tapi mampu melahirkan kader politik sebagai penerus partai. (4) Perlu diyakinkan bahwa pemimpin terpilih adalah sosok yang mampu melakukan kolaborasi diantara para kader. Maka di sarankan dari sembilan kandidat yang maju Musda Golkar, siapa pun yang menang perlu melakukan sinergitas yang tuntas agar kader terbaik membesarkan partai Golkar jangan sampai tidak terjadi konflik internal pasca Musda.

Musda Golkar yang segera dilaksanakan, sepantasnya menunjukkan kedewasaan berpartai politik. Tunjukkan Golkar sangat dewasa dalam memilih pemimpin. Dan lebih penting lagi, pilih Ketua Golkar Sulsel yang mempunyai kepemimpinan profesional dengan diterima semua kelompok yang ada di partai Golkar. Selamat Bermusda. Partai Golkar  dengan Sound bite (kata pamungkas) : DARI RAKYAT UNTUK RAKYAT.



TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini