Revolusi Bisnis Penerbangan, Rusdi Kirana Menginspirasi Indonesia

(Dok Rusdi Kirana Magazine)

Oleh Andi Besse Nabila Saskia*)
(tulisan inspiratif ini, disadur dari “The Magical Vision of Rusdi Kirana”. Tulisan ini diolah tanpa mengurangi pesan dan maknanya sebagai kado terindah  75 Tahun Indonesia Merdeka. Semoga menginspirasi)

menitindonesia.com – Seorang pengusaha muda, berbincang singkat dengan direktur maskapai penerbangan Vietnam. “Mau di bawah ke mana arah bisnis penerbangan nasional vietnam?” tanya pengusaha muda itu.

Si Direktur menjawab: “Akan saya bawa menjadi penerbangan massal yang terjangkau oleh semua kalangan masyarakat Vietnam.”

Pengusaha muda itu adalah Rusdi Kirana. Pemilik maskapai Lion Air Group. Ketika itu, dia masih seorang penjual tiket pesawat, usaha travel. Sejak itu, Rusdi melihat, ada yang salah dalam bisnis penerbangan di Indonesia. Kesalahan itu adalah: Harga!

Namun, kesalahan itu, oleh Rusdi Kirana dibaca secara terbalik: oppurtunity. Peluang! Di balik sebuah kesalahan, selalu tersembunyi sebuah peluang. Di sinilah tajamnya insting bisnis Rusdi.

Keyakinan itu melekat kuat dalam hati Rusdi Kirana, pengusaha muda yang ketika itu masih menekuni agen travel. Dia melihat masa depan bisnis penerbangan. Visinya itu, nantinya menjadi cikal lahirnya maskapai penerbangan terbesar di Asia Tenggara dari tangan pengusaha muda itu.

Foto Int/Kreatif menitindonesia.com

Suatu hari, di Indonenesia, terbang menggunakan pesawat adalah kemewahan. Tak terjangkau oleh masyarakat menengah, apalagi masyarakat bawah. Padahal Rusdi melihat ada cela yang lebar antara harga tiket dan biaya operasional penerbangan, tak tanggung-tanggung, celah itu sebesar 300 persen.

Celah berupa gap-harga dalam bisnis penerbangan di Indonesia dimanfaatkan dengan jeli oleh Rusdi. Ia hadirkan maskapai Low Cost Carrier (LCC).

Rusdi sadar, peluangnya untuk menang jauh lebih tinggi jika ia menantang kompetitor bertarung dengan harga bukan dengan modal. Di bisnis penerbangan, modal 1 juta dollar  AS yang ia miliki saat itu, ibarat menabur garam di tengah lautan.

Ketajaman insting bisnis Rusdi ketika itu, ditambah satu hal lagi: kejelian membaca momentum.

Saat itu, Indonesia mengalami reformasi 1998. Rusdi melihat celah peluang. Akan terjadi disrupsi besar-besaran dalam bisnis penerbangan di Indonesia. Bisnis penerbangan akan berubah haluan: dari tertutup monopolisitik menjadi terbuka kompetitif. Tak akan ada lagi privilese. Siapapun bisa terjun ke bisnis penerbangan.

Peluang emas ini, tak dibiarkan lewat sedetikpun oleh Rusdi. Tapi, ketika itu banyak yang meremehkan visi bisnis Rusdi untuk mendirikan maskapai. Bagaimana tidak, di saat krisis moneter, malah mendirikan bisnis yang berat dan beresiko. Mereka menyindiri Rusdi, agar mendirikan perusahaan kondom saja.

Satu karakter yang melekat di sosok Rusdi: semakin dijatuhkan semakin bangkit! Karakter yang melawan hukum gravitasi. Prinsip Rusdi, “Tidak mungkin pisau akan tajam kalau tidak diasah. Belajarlah dari tempaan hidup. Dan berusaha melupakan orang yang membuat kita susah.”

Rusdi berhasil. Ia membuktikan kepada mereka yang meragukannya: bahwa insting bisnisnya benar dan akurat. Inilah hasilnya: Tahun perdana, Lion Air mencapai penumpang 181.840 penumpang, Garuda 4,40 Juta penumpang. Lima Tahun kemudian, Lion Air: 6,63 juta penumpang, Garuda Indonesia: 6,95 juta penumpang.

Tujuh belas tahun kemudian, Lion Air Group: 51,72 juta penumpang, Garuda Indonesia: 33,86 juta penumpang.

Kehadiran Lion Air, mendongkrak pasar penerbangan Indonesia lebih dari tiga kali lipat. Dari 30 juta penumpang (2005) menjadi 97 juta orang (2017). Lion menjadikan Indonesia negara ke-5 dengan pasar domestik terbesar di dunia setelah Amerika Serikat, Cina, India dan Jepang.

Semua itu tidak dicapai dengan datar, melainkan penuh tempaan berat. Seperti kata Malaka: Terbentur. Terbentur. Terbentuk. Rintangan demi rintangan dilewati Rusdi Kirana. Semakin terbentur tantangan, semakin termotivasi. Dan semua itu, bukan hanya membuatnya semakin tangguh, tapi juga semakin lapang hati menerima kenyataan.

“Tidak mungkin pengusaha akan ulet kalau semua lancar. Learn by mistak. Learn semua dari tempaan. Kita harus bersyukur, kerja yang baik, kreatif, berpikir, beyond, out of the box,” kata Rusdi Kirana.

Kini Lion Air menjadi penerbangan massal yang terjangkau semua kalangan masyarakat Indonesia. Seperti keyakinan Rusdi, 25 Tahun silam.

*)Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab www.menitindonesia,com



TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini