Jelang Pendaftaran Pilkada Maros, Hanura dan Gerindra Masih Bingung, Bisa Head To Head Chaidir Vs Tajrimin

Chaidir Syam Vs Tajrimin (foto: ilustrasi menit)

Pilkada Maros 2020 Perebutan usungan koalisi partai politik di Pilkada Maros stagnan. Partai Gerindra dan Hanura, hingga saat ini belum menentukan calonnya. Jika kedua partai ini berkoalisi, lebih dari cukup bisa mengusung kandidat. Keduanya memiliki empat kursi di DPRD Maros.

menitindonesia.com, MAROS – Partai Gerindra dan Hanura – yang masing-masing mengontrol: Gerindra tiga dan Hanura empat kursi di DPRD Maros – itu, hingga kini belum menentukan jagoannya di Pilkada Maros. Lobby kandidat terhadap kedua partai itu, terkesan jalan di tempat.

Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Maros, Muhammad Yusuf Damang, ketika ditanya soal usungannya, bilang belum ada yang direkomendasikan dari DPP. Ia menilai, lobby yang dilakukan oleh kandidat sangat lembek.

Semula, Yusuf mendorong pasangan Andi Harmil Mattotorang – Andi Ilham Nadjamuddin agar melakukan lobby, tapi pasangan ini tidak menunjukkan upayanya. Begitu juga bakal calon lainnya yang sudah mendaftar. “Sepertinya lembek lobbynya. Malah Amirullah Nur yang dulu paling kuat melobby, perlahan-lahan hilang dari bursa,” ujar Yusuf.

Namun, Yusuf Damang tetap yakin Gerindra pasti punya calon. Chaidir Syam dan Tajrimin bisa saja diusungnya. Keduanya, kata Yusuf Damang, pernah mendaftar dan ingin maju bersama Gerindra.

Pasangan Chaidir Syam – Suhartina Bohari yang menggunakan tagline Hati Kita Keren itu, kini sudah mencukupkan koalisinya. Pasangan ini sudah mendapatkan surat usungan model B1 KWK dari koalisi partai: PAN, PPP dan PBB. Koalisi Hati Kita Keren sudah bersyarat mendaftar di KPU, September nanti.

Selain Chaidir-Tina, baru pasangan bakal calon H. Tajrimin – Havid S Pasha – yang menggunakan tagline Tahfids – itu yang juga memenuhi persyaratan koalisi. Tahfids akan diusung oleh Partai Golkar dan PKB. Golkar mengontrol 7 kursi dan PKB 4 kursi. Totalnya Tahfids memegang 11 kursi.

Rival Chaidir-Tina, yakni Harmil- Ilham yang menggunakan tagline “Maros Unggul”, hingga saat ini belum mencukupkan koalisinya. Harmil baru mengantongi rekomendasi Partai Nasdem yang mengontrol 5 kursi. Belum memenuhi  syarat koalisi untuk mendaftar di KPU yang mensyaratkan minimal 7 kursi.

PKS yang memiliki dua kursi, semula memberikan surat tugas kepada Harmi-Ilham, hingga saat ini belum menerbitkan rekomendasinya untuk menguatkan koalisi dengan Partai Nasdem di Maros. Malah terdengar kabar, rekomendasi PKS belum diterbitkan karena Harmil-Ilham belum menyelesaikan syarat untuk mendapatkan rekomendasi.

Sementara itu, Partai Hanura yang juga memiliki 4 kursi, belum bisa menentukan siapa calonnya nanti. Ketua DPC Hanura Maros, H. Rusli Rasyid, mengaku belum bisa memutuskan siapa kandidatnya. Namun, dia bilang, saat ini getol melobby tersisah dua bakal calon, yakni Chaidir Syam-Suhartina dan Harmil- Ilham.

Peta lobby di Partai Hanura, juga sama kejadian di Gerindra: para kandidat masih lembek: heboh di awal lenyap di akhir tanpa jejak. Namun Rusli tak memungkiri, jika partainya tetap akan mengusung. Saat ini, Anggota DPRD Maros tiga periode itu, mengancang-acang akan memperkuat Chaidir Syam-Suhartina jika Harmil-Ilham tidak bersungguh-sungguh bertarung.

Namun Rusli Rasyid, bilang proses rekomendasi semua diserahkan ke Provinsi dan pusat. “Siapapun yang direkomendasikan nanti, itulah yang Hanura Maros usung dan perjuangkan. Silahkan meyakinkan DPP,” kata Celli – sapaan akrab Rusli Rasyid.

Begitulah. Konstalasi akhir dinamika politik jelang Pilkada Maros 2020. Jika gesekan perebutan usungan Gerindra dan Hanura akhirnya berlabuh ke Chaidir atau ke Tajrimin, maka peluang terjadinya head to head antara Maros Keren dan Tahfids, bisa saja terjadi.

Paling tidak, akan diikuti oleh tiga pasangan jika peserta perseorangan Muhammad Nur – Muhammad Ilyas yang turut meramaikan, mampu mencukupkan administrasi persyartan di KPU. (andiesse)



TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini