Negeri Kosokbali Republik Dogol

Mantan Anggota Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD)
Oleh: Ostaf al Mustafa
ENTAH berapa banyak kebenaran yang harus selalu difitnah dan disalahpahami dalam prosesnya untuk menjadi kebaikan? Berapa banyak kebohongan yang mesti terpaksa disucikan, berapa banyak kesadaran dari hati nurani yang harus dikaburkan bahkan dikucilkan? Berapa banyak ‘Tuhan’ yang wajib dikorbankan setiap saat? Jika sebuah kuil peribadatan akan didirikan, maka sebuah rumah Tuhan yang lain harus dihancurkan: itulah hukumnya. Bisakah kalian tunjukkan saya satu contoh saja, betapa hal yang kejam demikian tidak pernah terjadi di manapun!
Susunan kalimat di atas sama sekali tidak berasal dari seorang yang beriman. Bahkan ia memproklamirkan betapa seseorang yang disembah dalam sebuah agama itu sudah berkalang tanah.  Selanjutnya sang Tuhan terbunuh oleh tikaman paku-paku jembatan berkarat, namun sebelumnya meregang sekarat di atas sebuah tiang yang bersiku di era Romawi.
Masih belum mengetahui siapa dirinya? Meski telah mematikan satu sesembahan yang kini dibuat patung itu, tapi lebih dahulu ia berkata atau lebih tepatnya mengurai beberapa soal penting tentang moralitas, sebagaimana beberapa susunan kalimat di atas. “Saya akan menyimpulkan cukup dengan tiga tanda tanya saja, kuyakin itu cukup jelas, tak perlu kuperpanjang lagi. ‘Apakah cita-cita tentang hal ideal bisa didirikan atau dihancurkan di sini?’ Anda mungkin bertanya balik kepada saya … Tetapi pernahkah Anda mempersoalkannya pada diri sendiri dengan benar, seberapa mahal biaya yang harus dikeluarkan demi menyusun setiap cita-cita demikian di bumi?”  (Friedrich Nietzsche, On the Genealogy of Morality, Cambridge University Press, ISBN-13: 978-0-511-34967-6, 2006: 24). Terpaksa harus mengutip kalimat-kalimat moralitas dari seorang yang pernah menggunakan bantuan Zarathustra untuk membunuh Tuhan itu atau menyerukan tentang ‘Tuhan sudah Mati’ (Friedrich Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra, Cambridge University Press, ISBN-13: 978-0-511-21975-7, 2006: 3). Sebab di hari-hari sekarang, bila memakai pesan-pesan beraroma agama, maka bangkai-bangkai neo-komunis akan bersamaan bangkit menjadi zombie. Lalu dengan liur-liur yang bervirus, akan membuat pandemi kedunguan, hanya untuk mematikan semua pengeritik.
Kita berada di sebuah bencana atau kegilaan multiverse pada Negeri Kosokbali Republik Dogol (NKRD), yang lebih parah kondisinya daripada yang dialami seorang ahli bedah saraf yang berkemampuan super (Doctor Strange in the Multiverse of Madness, Mei 2022). Di NKRD, meski setiap saat sang presiden selalu berbohong, tapi selalu bisa disucikan oleh banyak lingkaran orang-orang yang kerjanya menjulurkan lidah. Lalu dengan tetesan lendir bergetah akan membersihkan semua kata-kata dustanya. Terakhir ia terlihat di kebun jagung dan bertemu peternak ayam. Lalu setelah itu harga jualnya pasti anjlok pada petani, tapi justru sangat mahal bila sampai ke peternak ayam. Bila demikian, maka terjadilah episode perulangan kosokbali, yakni apa yang dikatakannya, pasti akan terjadi sebaliknya.
Semoga penyebutan kosokbali pada negeri metaverse ini, tidak memicu amarah warga di sebuah teritori, tempat para dewata bermukim di kuil-kuil pemujaan. Bukankah pada sebuah hari yang belum lama berlalu, seseorang yang peduli pada sebuah pulau, justru kemudian difitnah. Hanya karena penyebutan metaforis tentang dedemit buang orok. Lalu mereka membuat upacara amarah di depan kuil dengan cara memotong satu ekor babi. Mereka memerahi bumi dengan darah segar, demi mencari penutur amsal yang sudah minta maaf dengan takzim.
Hingga dikabarkan ada golok terbang yang kini melayang-layang di udara tanpa terpantau radar. Kemungkinan karena hanya menyembelih satu ekor binatang berhidung lemper dan bermoncong panjang itu, maka sang benda tajam itu akan jatuh di laut lepas. Butuh darah ratusan ekor binatang bertaring itu, agar sang gobang mampu melewati putaran angin ke pulau seberang.
Kebenaran sudah diucapkan dengan metafora, tetapi masih juga disalahpahami. Entah dengan bahasa apa mereka mampu diberikan pemahaman. Padahal kebohongan sudah bergenang-genang di pelupuk mata, tetapi lebih suka membabi buta seperti celeng miopia. Tidak banyak lagi yang pernah berkhidmat atau berbelasungkawa di depan atau di dalam rumah Tuhan masing-masing, karena matinya moralitas. Mereka memang sudah hidup dalam tatanam moral yang sudah dihancurkan dengan mental kedunguan, yang disepakati dalam norma-norma yuridis. Dan itu pun sudah menjadi moto revolusioner negara.
Jakarta, 30 Januari 2022


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini