Tentang Seorang Sahabat Bernama Nyayang

YM
Oleh Yarifai Mappeaty
Pengamat Sosial dan Budaya
menitindonesia – BAGI sebagian besar orang yang mengenal Haris Yasin Limpo dengan baik, dijamin merasakan bumi Makassar seolah dilanda gempa, ketika mendengar ia ditangkap gegara kasus korupsi. Mereka tak akan percaya dan menganggap berita bersangkutan adalah hoax. Tetapi faktanya, Nyanyang, sapaan akrab Haris, memang benar-benar telah ditangkap oleh aparat kejaksaan.
Secara pribadi, saya pun dapat memahami respon mereka itu. Bahkan saya sendiri tak urung terhenyak mendengarnya. Sebab Nyanyang yang mereka kenal dan juga seperti yang saya ketahui, bukan sosok yang memiliki mental korup. Ia malah dikenal secara luas sebagai pribadi yang sangat disiplin dan keukeuh menjaga diri, terutama saat menjadi Anggota DPRD Makassar 2004 – 2009 dan 2009 – 2014.

 

BACA JUGA:
Sekda Non Aktif Abdul Hayat, Pemprov Sulsel Hargai Putusan PTUN Jakarta

Sangking disiplinnya, Nyanyang tak jarang “ditinggal” oleh teman-temannya, karena dinilai tidak bisa membantu. Padahal, sebagai legislator yang sangat berpengaruh kala itu, tidak sulit baginya untuk membantu, misalnya, dengan proyek penunjukan langsung (PL). Apatah lagi proyek PL semacam itu, selain tak membutuhkan keahlian khusus, juga modalnya kecil, sehingga nyaris semua orang bisa mengerjakan.
Tetapi Nyanyang tetap bergeming dan memilih untuk tak mau berurusan dengan proyek. Akibatnya, pada Pileg 2014 – 2019, Nyanyang benar-benar ditinggal oleh sebagai besar pendukungnya, sehingga tak terpilih lagi untuk ketiga kalinya. Itulah harga yang harus ia bayar atas keteguhannya memegang prinsip yang diyakininya.

BACA JUGA:
Memaknai keberkahan Ramadan- 23

BACA JUGA:
Pemprov Sulsel Ringankan Beban Korban Terdampak Angin Puting Beliung di Toraja

Terkait hal ini, saya pun teringat pada cerita dua orang yang terhitung dekat dengan Nyanyang, yaitu, Halim Kamaruddin dan Soewarno Sudirman. Saat Nyanyang menjabat Ketua Umum KNPI Sulsel periode 2004 – 2007, Halim Kamaruddin yang menjabat Sekretaris Umum. Semasa mendampingi Nyanyang, Halim tak jarang “mengeluhkan” Nyanyang yang kerap menyuruh mengembalikan “amplop”, yang tidak jelas asal-usul, maksud dan tujuannya.
Lain lagi dengan cerita Soewarno Sudirman pada 10 tahun lebih silam. Pada suatu kesempatan, saya menemui Nyanyang di ruang kerjanya di DPRD Makassar. Harapan saya, siapa tahu ada pekerjaan yang bisa di-share. Namun setelah hampir saju jam lamanya bercakap, Nyanyang tak sekalipun memberikan signal untuk itu. Ia benar-benar menutup semua celah yang memungkinkan untuk bicara proyek. Pokoknya, tidak ada harapan.
Keluar dari tempat Nyanyang dengan sedikit kesal, tanpa sengaja bertemu Soewarno Sudirman, juga Anggota DPRD Makassar kala itu. Saya pun mengeluhkan sikap Nyanyang yang menurutku terkesan “jaim”. Padahal, mungkin saja secara diam-diam ia main dengan menggunakan orang lain, sebagaimana dilakukan oleh pejabat publik pada umumnya untuk memperkaya diri.
“Oh, jangan salah. Nyanyang memang tidak main begitu. Jangankan main proyek, anggaran di sini pun tidak ia gunakan selama merasa tidak cukup alasan untuk itu. Dia sangat menjaga diri,” ungkap Warno, begitu ia dipanggil, mencoba memperbaiki kesalahpahaman saya tentang Nyanyang.
Penjelasan Warno yang benar-benar senada dengan cerita Halim, memaksa saya untuk berpikir positif tentang Nyanyang. Maka semenjak itu, saya pun menaruh respek kepadanya, dan tak pernah lagi berusaha menemuinya. Sebab menurutku, sosok Nyanyang yang memiliki integritas dan termasuk langka kala itu, mesti dijaga.
Padahal, kalau dipikir-pikir, apa sulitnya bagi Nyanyang untuk memperkaya diri? Sedangkan kendali politik di Sulawesi Selatan masih dipegang oleh keluarganya. Sebut, misalnya, Syahrul Yasin Limpo, gubernur saat itu, adalah kakak kandungnya. Tetapi Nyanyang bukan tipologi orang yang berkarakter aji mumpung. Terbukti, Ia tak pernah sekalipun terdengar pernah terlibat mengatur proyek.
Selain itu, di tengah keluarganya, Nyanyang juga tampak berbeda sendiri. Di antara tujuh bersaudara, kehidupan keluarga Nyanyang-lah yang paling sederhana, bahkan paling religius. Seingatku, kemana-mana, selalu membawa tas kecil. Dan, di dalamnya selalu tersimpan kopiah haji warna putih.
Begitulah sosok sahabat bernama Nyanyang yang saya ketahui. Jika ia masih yang dulu, maka, saya yakin, Nyanyang akan fight menghadapi masalah yang menimpanya.
Makassar, 16 April 2023