Kepala BPOM Taruna Ikrar jelaskan strategi percepatan regulasi dan uji klinis Indonesia kepada TGA Australia.
Indonesia mulai dilirik sebagai kekuatan baru industri farmasi dunia berkat biaya uji klinis yang jauh lebih murah, percepatan regulasi, dan pasar domestik yang besar. Kepala BPOM RI, Prof. Taruna Ikrar, menegaskan Indonesia siap menjadi hub bioteknologi regional, menjadi ulasan dalam headlines news media prestisius dan terkenal di seluruh dunia, The Australian Financial Review edisi 27 Agustus 2025.
menitindonesia, JAKARTA — Di tengah ketidakpastian geopolitik dan perang tarif Amerika Serikat, Indonesia memantapkan diri sebagai destinasi baru bagi perusahaan farmasi global. Dengan biaya uji klinis yang hanya seperlima dari Amerika Serikat, proses regulasi yang lebih cepat, serta populasi lebih dari 270 juta jiwa, Indonesia kini dipandang sebagai alternatif strategis.
“Perbedaan biayanya sangat besar. Itu sebabnya Bill Gates juga berinvestasi dalam uji klinis di Indonesia,” ujar Prof. Taruna Ikrar, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.
Saat ini, Gates Foundation tengah mengembangkan vaksin tuberkulosis yang diuji pada 2.000 orang di Indonesia — sebuah kepercayaan internasional yang jarang diperoleh negara berkembang.
Regulasi Lebih Cepat, Lebih Efisien
Reformasi besar terjadi pada sektor regulasi. Jika sebelumnya pendaftaran obat baru memakan waktu hingga 300 hari kerja, kini proses tersebut dapat diselesaikan hanya dalam 90 hari. Sertifikasi perusahaan farmasi asing untuk berproduksi di Indonesia juga dipangkas drastis: dari tiga hingga lima tahun menjadi 2,5 bulan.
“Indonesia bisa mempermudah registrasi produk, tanpa mengurangi standar keamanan dan efikasi,” tegas Taruna Ikrar, dikutip dari The Australian Financial Review, Rabu (27/8/2025).
Kebijakan ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia serius membangun reputasi sebagai pusat farmasi dan bioteknologi regional.
Menjadi Mitra Strategis Australia
The Australian Financial Review, juga mengulas, dalam lawatannya ke Canberra, Taruna Ikrar bertemu pejabat Therapeutic Goods Administration (TGA) Australia. Ia menekankan bahwa Indonesia bukan hanya pasar, tetapi juga dapat menjadi basis produksi global yang strategis.
Beberapa perusahaan Australia sudah menunjukkan minat. Reece Pharmaceuticals, misalnya, berencana menggelar uji klinis tahap tiga di Indonesia untuk menguji efektivitas gel anti-infeksi bagi penderita diabetes.
Disebutkan dalam ulasan The Australian Financial Review, disebutkan bahwa visi besar ini sejalan dengan agenda Presiden Prabowo Subianto yang ingin menjadikan Indonesia sebagai hub bioteknologi Asia. Pemerintah Australia pun merespons positif dengan komitmen investasi senilai 100 juta dolar Australia dalam lima tahun ke depan, untuk memperkuat layanan kesehatan primer Indonesia.
Selain itu, pemerintah Indonesia juga menunjuk konsul jenderal baru di Melbourne dan Sydney guna mempererat kerja sama investasi, sembari mengurangi ketergantungan pada bahan baku obat impor.
Masa Depan Indonesia di Peta Farmasi Dunia
Dengan kombinasi keunggulan biaya, percepatan regulasi, pasar domestik yang luas, dan dukungan politik, Indonesia kini mendapat perhatian global sebagai salah satu kekuatan baru di industri farmasi.
“Produk yang dibuat di Indonesia akan lebih murah dibanding negara lain. Itulah yang menjadikan kita pilihan strategis,” pungkas Taruna Ikrar. (AE)