Kepala BPOM RI Prof Taruna Ikrar menyampaikan pesan tentang pengabdian, integritas, dan makna long distance saat dialog tatap muka bersama pegawai Balai Besar POM Padang, Minggu (21/12/2025).
Kepala BPOM RI Prof Taruna Ikrar menegaskan makna pengabdian sebagai proses belajar tanpa henti saat berdialog langsung dengan pegawai Balai Besar POM Padang, seraya berbagi kisah pengorbanan long distance, integritas keluarga, serta penegasan peran BPOM dalam pengawasan MBG sesuai Perpres 115/2025.
menitindonesia, PADANG — Di hadapan pegawai Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Padang, Kepala BPOM RI, Prof. Taruna Ikrar, hadir membawa kisah hidup, pengorbanan, dan pesan pengabdian yang lahir dari perjalanan panjang lintas benua.
“Hal paling menarik dalam hidup saya adalah belajar dan terus belajar,” ujar Prof. Taruna di Aula Kantor BBPOM Padang saat dialog dengan pegawai BBPOM.
Perjalanan akademik Taruna bermula di SMA Negeri 1 Ujung Pandang (kini Makassar). Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin sebagai mahasiswa angkatan 1988. Pada 1994 ia menuntaskan studi kedokterannya, lalu meraih gelar dokter pada 1997.
Semangat belajarnya tak berhenti di situ — Taruna kemudian melanjutkan pendidikan Magister Biomedik dengan kekhususan Farmakologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang diselesaikannya pada 2003.
Dari Jakarta, kiprah akademiknya merambah ke Jepang. Ia diterima di Niigata University untuk menempuh Program Doktor (S3/Ph.D) di bidang Cardiovascular dan Vital Control Medicine, sekaligus memperdalam Kardiologi di departemen yang sama.
Tak berhenti memperluas cakrawala ilmu, Taruna kemudian melanjutkan studi Post-Doktoral di University of Bologna, Italia, dengan fokus Visiting Doctor dan Advanced Electrophysiology pada 2007. Perjalanan ilmiahnya berlanjut ke Amerika Serikat, ketika pada 2013 ia mendalami Neuroscience di University of California, Irvine, lalu mengikuti Scholar Training Program di School of Medicine, Harvard University, pada 2014.
Dari jejak akademiknya itu, menjadi lintasan yang kerap membuat publik menjulukinya sebagai penakluk tiga benua.
Namun, di balik capaian itu, tersimpan cerita tentang jarak dan rindu.
Long Distance sebagai Pengabdian
Pertanyaan datang dari Putra, Kepala Loka POM Sijunjung, Sumatera Barat. Ia bertanya tentang cara Prof. Taruna menghadapi long distance dengan keluarga.
Jawabannya ilmuwan dunia itu, tenang, reflektif, dan sarat makna.
“Ketika kita memilih long distance, niatkan itu sebagai pengorbanan untuk mengabdi kepada negeri,” kata Prof. Taruna. “Jarak justru melatih kita menjaga diri, jangan berkhianat, dan merawat rasa rindu.”
Ia berkisah, baru tiga bulan menikah, dirinya harus berangkat ke Jepang untuk studi. Saat sang istri hamil, ia kembali melanjutkan pendidikan ke Italia. Jarak kembali memisahkan.
“Rindu itu bukan kelemahan,” lanjutnya. “Kelak, rindu akan menjadi keindahan tersendiri dalam hidup.”
Menurut Prof. Taruna, pengalaman long distance bukanlah hal eksklusif. Banyak aparatur negara mengalaminya—mulai dari TNI, Polri, hingga ASN di berbagai instansi.
“Kata kuncinya sederhana: sering komunikasi dan manfaatkan teknologi digital. Jaga kepercayaan pasangan. Jangan pernah mengkhianati,” tegasnya.
Baginya, setiap pengabdian selalu memiliki balasan, meski tidak selalu datang dengan segera.
Jangan Pernah Menyerah
Dalam dialog bersama pegawai, Prof. Taruna berulang kali menekankan satu prinsip hidup yang ia pegang sejak muda. “Jangan pernah menyerah,” ujarnya singkat namun kuat.
Belajar, menurutnya, bukan hanya soal gelar dan institusi ternama, tetapi juga ketahanan mental, integritas, dan konsistensi dalam tujuan hidup. Nilai-nilai itulah yang ia harapkan tumbuh di lingkungan BPOM sebagai garda terdepan perlindungan masyarakat.
Pengawasan MBG
Dialog kemudian beralih ke isu kebijakan. Fitriah, pegawai BBPOM Padang, menanyakan peran BPOM dalam pengawasan MBG.
Prof. Taruna menjawab lugas. “Pengawasan MBG sudah diatur sangat jelas dalam Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2025. Mandatnya tegas, mekanismenya terukur,” jelasnya.
Ia menegaskan, BPOM menjalankan fungsi pengawasan secara sistematis dan berlapis untuk memastikan keamanan dan mutu pangan tetap terjaga. Tidak ada ruang kompromi dalam hal perlindungan kesehatan masyarakat.
Begitulah. Pertemuan tatap muka itu berlangsung hangat. Bukan hanya forum kerja, melainkan ruang berbagi nilai tentang keluarga, pengabdian, integritas, dan makna belajar seumur hidup.
Di akhir pertemuan, pesan Prof. Taruna menggema sederhana namun dalam:
belajar tanpa menyerah, mengabdi tanpa mengkhianati, dan menjaga rindu sebagai bagian dari keindahan hidup seorang abdi negara. (AE)