Ketua Umum Gerakan Srikandi Indonesia, Dewie Yasin Limpo, menyampaikan sikap gerakan dalam deklarasi GSI di Jakarta. GSI menempatkan kemandirian ekonomi perempuan sebagai fondasi perjuangan.
Dewie mendirikan Gerakan Srikandi Indonesia untuk menantang cara lama pemberdayaan perempuan—bukan dengan pidato, melainkan dengan kemandirian ekonomi.
menitindonesia, JAKARTA — Dewie Yasin Limpo memilih bangkit tanpa banyak kata. Ia tidak menawarkan seremoni, melainkan kerja. Dari kegelisahan melihat perempuan terus berada di pinggir ekonomi, lahirlah Gerakan Srikandi Indonesia, sebuah gerakan yang menempatkan kemandirian perempuan sebagai tujuan, bukan slogan. Di tengah ramainya wacana kesetaraan, Dewie mengambil jalur yang lebih sunyi namun konkret: ekonomi.
Bagi Dewie, pemberdayaan perempuan terlalu lama berhenti di pidato. Banyak pelatihan selesai tanpa perubahan hidup. Banyak bantuan datang tanpa keberlanjutan. Perempuan kembali ke rumah dengan sertifikat, tetapi tanpa pegangan. Pola itu, menurutnya, harus diputus. “Perempuan jangan hanya disuruh sabar,” kata Dewie. Kalimat pendek itu menjadi penanda arah: gerakan ini tidak dibangun untuk menenangkan, melainkan untuk menggerakkan.
Kegelisahan itu berakar pada kenyataan lapangan. Di banyak tempat, perempuan bekerja paling lama, menerima paling sedikit, dan memikul beban paling besar. Mereka menopang keluarga, mengurus rumah, sekaligus mencari penghasilan tambahan—sering tanpa akses modal, pasar, atau pendampingan. Di titik itulah Dewie melihat celah: jika perempuan diberi alat yang tepat, dampaknya berlipat. Bukan hanya bagi diri mereka, tetapi juga bagi keluarga dan komunitas.
Pada 7 Januari 2026, bersama ratusan perempuan di Jakarta, Dewie secara resmi mendeklarasikan Gerakan Srikandi Indonesia sebagai organisasi kemasyarakatan perempuan. Deklarasi itu tidak dirancang sebagai perayaan simbolik. Ia lebih menyerupai penegasan sikap. GSI dideklarasikan untuk menghimpun, menguatkan, dan menggerakkan perempuan agar mampu berdiri mandiri serta berkontribusi nyata bagi perekonomian. Fokusnya jelas: kerja nyata, hasil terukur, dan dampak berkelanjutan.
Infografis Gerakan Srikandi Indonesia yang menitikberatkan pada pemberdayaan ekonomi, pelatihan keterampilan, akses pasar, serta penguatan komunitas dan jejaring perempuan.
Menolak Belas Kasihan, Memilih Kemandirian
GSI bergerak di ruang-ruang tempat perempuan benar-benar hidup dan bertahan—pasar tradisional, kampung, sentra usaha kecil, dan komunitas pinggiran. Pendekatannya bukan karitatif. Tidak ada pembagian bantuan yang habis dalam sehari. Yang ditawarkan adalah pendampingan: keterampilan usaha, literasi keuangan, penguatan jejaring, dan akses pasar. Perempuan didorong untuk memegang kendali atas usaha dan penghasilannya. “Mandiri itu bukan pilihan, tapi kebutuhan,” ujar Dewie, menegaskan garis keras gerakan ini.
Dalam praktiknya, Dewie tidak menempatkan diri sebagai pusat cerita. Ia hadir sebagai penggerak. Di banyak pertemuan, ia lebih sering mendengar daripada berbicara. Catatan lapangan itu yang kemudian diterjemahkan menjadi program. Dari satu komunitas ke komunitas lain, GSI membangun jejaring perempuan produktif yang saling menopang—bukan bersaing. Targetnya sederhana namun tegas: usaha berjalan, pendapatan tumbuh, dan posisi tawar meningkat.
Dewie juga menolak cara lama yang memosisikan perempuan sebagai objek belas kasihan. Menurutnya, simpati tanpa akses hanya melanggengkan ketergantungan. “Kita tidak minta dikasihani, kita minta diberi ruang,” ucapnya. Ruang yang dimaksud bukan hanya ruang bicara, tetapi ruang ekonomi: akses modal, pasar, teknologi, dan keputusan. Dari sanalah kemandirian bertumbuh.
GSI memandang kemandirian ekonomi sebagai pintu masuk paling rasional untuk perubahan yang lebih luas. Ketika perempuan memiliki penghasilan dan kendali atas usaha, relasi dalam keluarga ikut bergeser. Keputusan menjadi lebih setara. Ketahanan ekonomi meningkat. Dampaknya berlapis—tidak instan, tetapi berkelanjutan. Inilah alasan GSI memilih jalur yang mungkin tidak populer, namun efektif.
Kebangkitan Dewie melalui Gerakan Srikandi Indonesia bukan peristiwa personal. Ia adalah upaya kolektif untuk menggeser cara lama memandang perempuan—dari penerima menjadi penggerak, dari pinggir ke pusat ekonomi. Di tengah kecenderungan seremonial, GSI menawarkan kerja. Di tengah janji, GSI menuntut hasil. Di titik itulah, kebangkitan menemukan maknanya: bukan sebagai cerita tentang satu orang, melainkan tentang banyak perempuan yang akhirnya memiliki ruang untuk berdiri di atas kaki sendiri. (andi esse)