Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menyampaikan paparan mengenai potensi inovasi Indonesia dan peran strategis pengawasan berbasis sains dalam forum IAPPI–BRIN di Aula BJ Habibie, Gedung Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Sabtu (14/2/2026)
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menegaskan bahwa peran BPOM tidak berhenti pada fungsi pengawasan obat dan makanan, tetapi menjadi fondasi strategis dalam menopang pertumbuhan dan daya saing perekonomian nasional yang nilainya mencapai ribuan triliun rupiah.
menitindonesia, JAKARTA — Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menegaskan bahwa peran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak berhenti pada fungsi pengawasan obat dan makanan, melainkan menjadi fondasi strategis dalam menopang pertumbuhan dan daya saing perekonomian nasional.
Pernyataan itu disampaikan Taruna saat hadir sebagai pembicara dalam forum bertajuk Peta Jalan Strategis untuk Akselerasi Indonesia Berdaya Saing Global yang digelar Ikatan Alumni Perhimpunan Pelajar Indonesia (IAPPI) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Aula BJ Habibie, Gedung BRIN, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Sabtu (14/2/2026).
Dalam pemaparannya, Taruna menjelaskan bahwa sektor-sektor di bawah pengawasan BPOM—mulai dari obat, kosmetik, suplemen kesehatan, obat tradisional hingga pangan olahan—menyimpan potensi kontribusi ekonomi yang sangat besar. Total nilainya diperkirakan mencapai sekitar Rp10.000 triliun atau setara US$594 miliar. Angka tersebut mencerminkan besarnya ekosistem industri yang bertumpu pada kepastian mutu, keamanan produk, dan kepercayaan masyarakat.
Taruna menilai, pesatnya pertumbuhan industri kesehatan, pangan, dan kosmetik seiring perubahan gaya hidup masyarakat serta ekspansi perdagangan digital menuntut penguatan peran negara. Dalam konteks ini, BPOM diposisikan bukan sebagai penghambat, melainkan sebagai penyangga ekosistem industri agar tumbuh sehat dan berkelanjutan.
Regulasi, Riset, dan Kepercayaan Pasar
Ia menegaskan bahwa regulasi yang kuat dan berbasis sains justru menjadi faktor kunci peningkatan daya saing. Kolaborasi antara BPOM dan BRIN, menurut Taruna, memungkinkan lahirnya kebijakan pengawasan yang adaptif terhadap inovasi tanpa mengorbankan aspek perlindungan konsumen.
Menurutnya, ketika kepastian regulasi terjaga, pelaku usaha memiliki ruang yang jelas untuk berinovasi. Produk dalam negeri pun memiliki peluang lebih besar untuk diterima di pasar global karena didukung standar mutu dan keamanan yang kredibel.
Forum yang diinisiasi IAPPI tersebut menempatkan BPOM sebagai bagian penting dalam peta jalan besar Indonesia menuju daya saing global. Di Aula BJ Habibie, siang itu, pesan yang mengemuka jelas: pengawasan obat dan makanan adalah kerja strategis yang menopang ekonomi nasional—senyap, tetapi menentukan arah masa depan industri Indonesia. (AE)