Omnipresent, Tuhan yang Membatu dan Mematung

Mantan Anggota Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD)
Oleh: Ostaf al Mustafa
HISTORIOGRAFI omnipresent, yang meyakini Tuhan berada di mana-mana, dimulai di era Nabi Nuh Alaihis Salam. Sebelum kemenduan, kemempatan, kemelimaan Tuhan serta jumlah yang makin jamak berlapis-lapis, lebih dulu muncul keyakinan baru yakni omnipresent. Dalam keyakinan ini, Tuhan kemudian membatu dalam bentuk lima patung orang yang saleh. Selain memasang pada tempat yang dianggap terdekat dalam lokasi yang dipercaya sebagai kuburannya, juga dipasang pada lokasi pemujaan. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Urwah bin az Zubair, bahwasanya ia berkata: Wadd, Yahuts, Ya’uq, Suwa’, dan Nasr adalah anak-anak Adam (Al Hafizh Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi dan Rasul, Pustaka As-Sunnah, ISBN: 978-979-3913-24-7, 2007: 105).
Omnipresent seperti ini hadir sempurna di Indonesia, tidak harus dalam sosok Tuhan yang membatu, meng-kayu, atau dalam bentuk dua dimensi. Istilah meng-kayu ini berarti Tuhan dibuat dalam bentuk pahatan kayu. Meski kata itu tidak ada dalam KBBI, namun selalu hadir dalam sepanjang kedunguan memberhalakan manusia. Pernah ada yang mengatakan kini manusia mengalami fase kedua gelombang kesyirikan. Fase pertama terjadi di era Nabi Nuh Alaihis Salam. Untuk kasus ini, Allah mengirim banjir besar yang telah dicatat dalam berbagai mitos pula sebagai banjir yang tiada taranya.
Di fase kedua kesyirikan itu, hampir lengkap terjadi di Indonesia dan dilakukan ummat Islam. Bahkan kesyirikan yang dilakukan kaum jahiliyah Mekkah tidak ada apa-apanya dibanding kelakukan ummat Islam Indonesia. Sebagai contoh, bila orang jahiliyah mengalami musibah, maka mereka kembali berdoa hanya kepada Allah semata-mata. Mereka sama sekali tidak akan pernah melibatkan sekutu-sekutu Tuhan. Kalau di Indonesia sebagaimana yang kita lihat, setiap kali bencana pasti mereka kembali menuju kesyrikan paling besar.
Bencana tsunami hingga yang terbaru ledakan Gunung Semeru atau juga sebelumnya Gunung Merapi, praktik kesyrikan tak tertandingi lagi. Sedungu-dungu Jahiliyah Quraisy dan warga Mekkah yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum, masih lebih sedikit volumenya daripada yang dilakukan muslim Indonesia sekarang.
Secara logika, apa gunanya kepala sapi atau kepala kerbau dipotong sebagai persembahan? Bahkan terdapat suatu ironi atau sarkasme yang ditulis dalam novel Sang Nyai karya Budi Sardjono, 2018 terdapat suatu percakapan bahwa Mbak Marijan itu tidak sama sekali memiliki kesaktian. Mengapa ia bisa lolos dari bencana Gunung Merapi, namun selanjutnya akhirnya mati mengenaskan? Di salah percakapan dalam novel itu terdapat jawabannya.
Mereka yang selama ini mendewakan Mbak Marijan harus tahu kebenaran, meski hanya disampaikan melalui fiksi. Dalam percakapan dua karakter utama dalam novel itu yakni Mbak Marijan selama di letusan yang pertama, karena wedus gembel terhalang sebuah bukit. Hingga rumahnya aman. Namun setelah bukit itu runtuh, dan Mbak Marijan masih berusaha menunjukkan kehebatan dirinya. Akhirnya selesai episode hidupnya. Wedus gembel tak lagi memiliki penghalang hingga menerjang dan mengepung rumahnya. Tak ada kesaktian dan keberanian yang berguna bila melawan kondisi alam yang ekstrem.
Di Merapi juga Semeru keyakinan omnipresent hadir melalui bentuk acara atau ritual sesembahan kepada Mbaureksu. Keyakinan batil yang bahkan tidak dilakukan kaum nabi Nuh Alais Salam juga kaum jahiliyah Arab. Jadi yang paling menyedihkan pada nasib buruk ummat Islam Indonesia, bukan karena adanya rezim oligarki radikal, tidak karena sumber alam dikuasai asing dan aseng, juga bukan karena korupsi yang tiada limit, namun adanya keyakinan omnipresent itu.
Jakarta, 11 Desember 2021