Appi Dikritik Disuruh Ubah Model Komunikasi Politiknya. Arqam Azikin : Contohi Supriansa

Arqam Azikin - Pengamat Politik Unismuh

Komunikasi politik Bakal Calon sangat menentukan jelang menghadapi Pemiihan Kepala Daerah (Pilkada). Ketatnya persaingan kepentingan, komunikator politik sangat berpengaruh menyakinkan elit politik membangun kekuatan bersama merebut kekuasaan. Dr. Arqam Azikin, Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah, menilai Munafri “Appi”Arifuddin, tidak mahir dalam komunikasi politik. “Dia perlu juru bicara yang terampil,” ujar Arqam. 

menitindonesia.com, MAKASSAR – Fenomena komunikasi politik Bakal Calon Wali Kota dan Wakil Walikota dalam strategi lobby politik, diamati dengan cermat oleh Pakar Komunikasi Politik dan Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Makassar, DR. Arqam Azikin.

Arqam mengaku, dia intens mengamati model komunikasi politik yang dilakukan oleh Tim Pendampingan Appi, yang dinilainya kurang tepat. “Appi adalah Calon yang pernah mengikuti Pilkada Makassar dan melawan kotak kosong. Ada yang salah dalam komunikasi politik mereka, sehingga Appi-Cicu kalah dari kotak kosong,” ujar Alumni Fakultas Sospol Jurusan Komunikasi Universitas Hasanuddin ini.

Seperti pepatah Keledai, tak ada keledai yang mau jatuh di lubang yang sama. Arqam pun mencermati dan mengamati kembali gerakan Appi dalam kontestasi Pilkada Kota Makassar Jilid Dua ini. Setelah menganalisis, Arqam pun memberi warning ke Appi agar segera mengevaluasi metode komunikasi politik dan pergerakan politiknya. “Mumpung masih ada waktu lima bulan merubah metode dan strateginya,” ujar mantan Aktifis Mahasiswa era 98 ini kepada menitindonesia.com.

Sesungguhnya, menurut Arqam Azikin, Appi memiliki kans dan modal politik memenangkan Pilkada Makassar Jilid Dua ini. Alasannya, Appi memiliki potensi nama besar Aksa Mahmud dan Erwin Aksa yang sangat berpengaruh. Selain itu, Arqam juga menganggap faktor Jusuf Kalla bisa dieksplorasi sebagai energi dalam melobby partai dan kekuatan-kekuatan politik sebagai boster (pendorong) kekuatan Appi nanti.

“Potensi ini yang tidak mampu dieksplorasi oleh Appi. Kelemahannya karena gagap dalam komunikasi politik. Dia butuh pendampingan yang tepat,” ujarnya meyakini hasil analisisnya.

Bukti kelemahan komunikasi politik Appi menurut dosen ilmu komunikasi Unismuh ini, sudah hampir satu tahun ini Appi belum mendapatkan Rekomendasi Partai Politik. “Metode komunikasi ke publik itu lemah, sehingga mengurangi daya tariknya ke elit-elit Partai Politik. Jika citranya menurun, berarti manajemen Tim Pendamping Appi gagal membangun citra terhadap Appi,” katanya.

Ditanya model komunikasi politik yang tepat di masa Pilkada ini, Arqam Azikin menguraikan beberapa analisisnya. Ia mencontohkan, misalnya model komunikasi politik Supriansa, mantan Wakil Bupati Soppeng yang kini duduk sebagai Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Golkar. “Dalam melakukan kerja-kerja politik, Supriansa selalu menggunakan jubir yang handal, sehingga semua orang yakin terhadap figurnya,” ujarnya.

Arqam Azikin mencontohkan Supriansa karena politisi asal Soppeng tersebut, dikenal santun dalam berkomunikasi, merendah dalam berpendapat dan dikenal tegas memegang komitmen. Bahkan menurut pengamatannya, Supriansa juga tidak pernah memusuhi lawan-lawan politiknya. “Figur seperti ini, mesti menjadi contoh politisi di masa Pilkada ini,” ujarnya.  (tim-saskia)



TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini