Usai Tinggalkan NH, Posisi Danny Pomanto Kian Tersudut, Hasbi Lodang: Politisi Harus Berkepribadian

Hasbi Lodang - Demonstran Era 98
Video rapat virtual bocor – Rapat antara HAM Nudin Halid (NH) dengan Mohammad Ramadhan “Danny” Pomanto berdurasi 4 menit – yang viral itu, semakin menyudutkan posisi Danny. Selain ucapan Danny yang kontroversial, juga sikap politik DP – akronim nama Danny Pomanto – pun dinilai sebagai inkosistensi.
menitindonesia, MAKASSAR – Kali ini, kritikan pedas atas sikap kontroversi DP datang dari pentolan demonstran Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi (AMPD) era 98, Hasbi Lodang. Dia mengaku ngeri melihat situasi politik jelang Pilkada kota Makassar, 9 Desember 2020, nanti.
Alumni Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin itu, mengatakan bahwa Pemilihan Kepala Daerah Walikota dan Wakil Walikota Makassar, sejatinya digelar sebagai proses suksesi demokrasi rakyat untuk memilih pemimpin, bukan memilih orang yang ambisius mau menjadi penguasa.
“Yang dibutuhkan sekarang adalah pemimpin, bukan penguasa. Pemimpin itu memiliki kepribadian, sedangkan penguasa, hanya memperjuangkan ambisinya, bukan memperjuangkan visinya,” ujar Hasbi.
Hasbi Lodang mengaku tidak pernah mengamati perpolitikan pada hajatan Pilkada, apalagi mau bicara soal Pilkada. Namun, beredarnya video rapat virtual DP – NH di medsos, membuat dia terpaksa bersuara. Diketahui, dalam video berdurasi 4 menit itu, DP menyeret beberapa nama dengan caci maki, terutama kepada elite Partai Nasdem, SYL, RMS dan Sahruddin Alrif.
DP – semula sudah mengantongi Rekomendasi Partai Golkar berpasangan dengan kader Golkar, Andi Zunnun. DP memberikan personal garansi kepada NH, bahwa tekanan pada dirinya untuk meninggalkan Zunnun, dia abaikan. Bahkan dia lebih memilih meninggalkan Partai Nasdem ketimbang harus mengubah calon wakil walikota, pendampingnya. “Saya bukan bidak yang mau diatur-atur oleh mereka (Nasdem, red),” ujar DP pada video itu.
Bahkan, DP menyebut nama RMS (panggilan Rusdi Masse) dan Sahruddin (dipanggil Sahar) sebagai orang yang emosional, tinggi hati dan sok berkuasa.
Habil L bersama Presiden Jokowi didampingi para demonstran 98, Ostaf Al Mustafa, dan Rahmat Zeena .
Berselang beberapa lama, konstalasi politik berubah. DP tiba-tiba mengubah arah koalisinya: mencampakkan rekomendasi Golkar dalam genggamannya, lalu meninggalkan Nurdin Halid tanpa pamit. DP memilih berpasangan dengan kader Partai Nasdem Fatmawati Rusdi, dan sekaligus ia meninggalkan Partai Nasdem dan menjadi kader baru Partai Gerindra. DP-Fatma, bakal diusung koalisi Nasdem-Gerindra.
Saat ini, DP-Fatma mesosialisasikan tagline “Adama” dengan menyebar bunner dan balihonya di Kota Makassar. “Kasihan dengan Nurdin Halid dan Partai Golkar. Ini namanya dipakasiri (dipermalukan, red). Ngeri suasana politik di Makassar ini,” kata mantan komisaris salah satu BUMN itu.
Mantan Koordinator AMPD Makassar ini, juga merasa sangat prihatin dengan prilaku politik yang plintat-plintut. “Jika elit politik tidak memiliki kepribadian, akhirnya nanti yang akan disalahkan adalah sistim demokrasi yang kebablasan, padahal demokrasi itu bertujuan menghadirkan pemimpin yang berkepribadian yang mengakar dari rakyat, bukan pemimpin yang ambisius dan munafik,” kata demonstran itu. (tim)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini