NLF-7 Ungkap Empat Point Kejutan Besar dari Social Cognitive Neuroscience 

(Foto: ist)
menitindonesia, JAKARTA – Neuro Leadership Indonesia (NLI) Institute menyelenggarakan Neuro Leadership Forum 7 (NLF-7) melalui live streaming di YouTube Channel ‘NeuroLeadership Indonesia Institute’ yang diikuti sekita 70 peserta, pada Kamis 19 Agustus, kemarin.
Tema yang diusung NLF-7 adalah ”Leading with Foresight to Real Normal berbasis NeuroLeadership” dengan tujuan membangun kolaborasi dan ruang diskusi bagi para leaders lintas sektor dan disiplin, menciptakan Insights menggerakkan aksi bangkit dari pandemi Covid-19, menggunakan kepemimpinan visioner berbasis neuroscience, dan merapatkan barisan dan visi kedepan menuju Indonesia tangguh dan bertumbuh.
Hadir sebagai tujuh pembicara yang memiliki latar belakang yang berbeda dalam acara NLF-7 yakni: Ketua Konsil Kedokteran Indonesia, Prof. Taruna Ikrar, Ketua Badan Supervisi Bank Indonesia, Muhammad Edhie Purnawan, Phd, Ketua Umum Kadin Indonesia, Arsjad Rasjid, Kasubditbintibsos Korbinmas Baharkam Polri, Kombes Hari Purnomo, SH, SIK, Staf Ahli Menteri Dalam Negeri Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Dr. Hamdani MM, Msi, Ak, Faculty Member Neuroleadership Indonesia Institute, Anggun Meylani Pohan, M. Psi, Co-Founder Neuroleadership Indonesia Institute, Roy Amboro ST, MBA.
Adapun tema yang dibahas adalah “Memberdayakan Kinerja Otak Sosial dan Kapasitas Mental Pemimpin yang lebih Konstruktif dalam Menghadapi Tantangan Pandemi”. Bertindak sebagai moderator Arida Wahyuni CEC.
Dalam forum diskusi-1, tampil sebagai pembicara pertama, Muhammad Edhie Purnawan, Ph.D., Ketua Badan Supervisi Bank Indonesia. Dia menjelaskan hasil survey yang dilakukan Wellbeing @Work Survey 2020 tentang kepemimpinan pada saat Pandemi Covid-19, mendapatkan hasil mengenai adanya tantangan, perasaan yang dialami selama pandemic dan dukungan yang paling menguntungkan perusahaan.
Dari survey tersebut, kata Edhie, ditemukan adanya 3 tantangan organisasi teratas, yaitu isu dengan moral karyawan, pengurangan pengeluaran dan PHK karyawan.
“Hal ini, karena perusahaan mengalami kesulitan di saat pandemic, sehingga produktivitas perusahaan menurun sementara biaya operasional tidak turun secara signifikan. Kondisi ini menuntut para leader di perusahaan untuk melakukan berbagai inovasi untuk menjawab tantangan ini,” ujar Edhie Purnama.
Pada kesempatan lain, dia juga menjelaskan tentang konsep neuroscience dan neuroleadership. Menurut Edhie Purnama, neuroscience diyakini dapt menjadi salah satu solusi untuk menjalankan misi mengubah orang lain dan lingkungan menjadi lebih baik. Sedang neuroleadership, kata dia, merupakan konsep yang ditemukan David Rock, Direktur Neuroleadership Institute yang menggabungkan antara neuroscience dan leadership.
“Dalam pengembangannya, neuroleadership dimodelkan dalam model SCARF (status, certainty, autonomy, relatedness and fairness) yaitu sebuah inisiatif global yang menyatukan ahli saraf dan pakar kepemimpinan untuk membangun ilmu baru untuk pengembangan kepemimpinan,” ujarnya.
Pembicara kedua, Arsjad Rasjid, Ketua Umum KADIN Indonesia mengatakan, semua pengusaha adalah pejuang, karena saat ini para pengusaha baik pengusaha kecil, menengah dan besar saling berperang melawan pandemi dan ekonomi.
“Dukungan yang sudah dilakukan oleh KADIN untuk mereka, diantaranya adalah memberikan vaksinasi gotong royong, rumah O2 (oksigen) gotong royong, Tabung O2 (oksigen), sumbangan pengusaha, pemulihan ekonomi,” kata Arsjad Rasjid.
Lebih lanjut, Arsjad juga meminta, agar tetap menjaga stabilitas ekonomi: kesehatan, ekonomi, sosial dan semua elemen bangsa perlu bersatu dan bergotong royong untuk memenangkan perang melawan pandemi.
“Kadin juga ikut fokus untuk pulihkan kesehatan agar dapat membangkitkan ekonomi Indonesia. Saatnya di era pandemi Covid-19 ini, dibutuhkan pemimpin yang agile, adaptif, berpikir out of the box dan inovatif,” ucapnya.
Pembicara ketiga, Prof. Taruna Ikrar, Ketua Konsil Kedokteran Indonesi mengatakan, otak memiliki triliunan sel saraf yang terlibat dalam pengambilan keputusan, disinilah dibutuhkan peran Neuroscience: Bagaimana meningkatkan optimisme masyarakat bahwa Covid-19 adalah krisis yang bisa kita lalui dengan baik.
“Optimisme, adalah semangat yang akan meningkatkan imunitas. Pentingnya peran leadership untuk meningkatkan optimisme masyarakat, menemukan vaksin, obat-obat baru, sehingga Indonesia menjadi mandiri. Mari bersatu padu dan itu membutuhkan leadership,” kata Prof Taruna Ikrar.
Pembicara keempat, Dr. Hamdani. MM, M.Si., Ak., Staf Ahli Mendagri Bidang Ekonomi dan Pembangunan mengatakan, banyak kebijakan afirmasi yang telah dibuat oleh Kemendagri untuk penanganan pandemi, agar dapat dieksekusi oleh Pemerintah Daerah (provinsi, kabupaten/kota), termasuk aturan APBD untuk alokasi bidang kesehatan dan anggaran tambahan covid.
Selain itu, kata Hamdani, Kemendagri juga sudah memberikan pendampingan kepada Pemerintah Daerah tentang cara-cara untuk merencanakan dan menganggarkan terkait program kesehatan masyarakat
“Pembagian kewenangan urusan kesehatan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah juga sudah jelas, agar semua pihak bisa melakukan usaha bersama,” ujar Hamdani.
Dia juga mengungkapkan, Kemendagri sudah menetapkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) di bidang kesehatan agar pelayanan yang diterima masyarakat sama di seluruh provinsi dan kapubaten/kota.
“Sebagai tindak lanjut, penting agar ada pemahaman yang baik dalam perencanaan dan penganggaran untuk pemenuhan Standar Pelayanan Minimal urusan kesehatan dalam mewujudkan Stabilitas Sosial Urusan Kesehatan di Daerah,” ucapnya.
Pembicara kelima, Kombes Hari Purnomo, SH, SIK, Kasubditbintibsos Korbinmas Baharkam Polri mengatakan, tugas Pokok dan Fungsi Polri adalah untuk membangun Stabilitas Kamtibmas, dimana dibutuhkan kepemimpinan yang visioner dan kolaboratif.
“Untuk membangun Budaya Kolaborasi, Polri dalam menjalankan tugasnya mempunyai tiga level pendekatan, yaitu Preemtif, Preventif dan Represif. Dimana Polri akan mengutamakan pendekatan Preemtif dan Preventif yg lebih humanis dan simpatik, terutama dalam masa pandemi ini,” ujar Hari Purnomo.
Menurutnya, Strategi Pengelolaan POLRI diatur dalam konsep Astra Gatra untuk menghadapi potensi-potensi gangguan, yang bisa mendapatkan tantangan, modus, atau tuntutan baru yang kompleks.
“Stabilitas kamtibmas dapat terwujud karena adanya budaya kolaboratif (gotong royong) seluruh elemen masyarakat–termasuk Polri di dalamnya,” ujarnya.
Pembicara keenam, Anggun Meylani Pohan, Neuropsichology Practitioner & Faculty Member NLI Institute, mengatakan Indonesia bukan saja sedang menghadapi tantangan kesehatan dan ekonomi, tapi juga tantangan Mental. Masyarakat sekarang, kata dia, banyak berdiam di rumah sehingga lebih sering menggunakan media sosial, dimana banyak berita hoax maupun berita buruk yang lebih laku.
“Hirarki kebutuhan Maslow menjelaskan tingkatan kebutuhan manusia, dimana di Indonesia masih banyak penduduk yang belum terpenuhi kebutuhan dasarnya. Hal ini berpengaruh pada perilaku sosialnya,” kata Anggun.
Dia menambahkan, dalam Perilaku sosial ada tiga kategori yaitu terrible behaviour, ideal behaviour (yang diinginkan manusia) dan acceptable behaviour, tergantung dari tingkat inteligen dan kepercayaan dirinya.
“Emosi dipengaruhi oleh respon fisik, aktivitas neuron otak dan pikiran-pikiran. Penting untuk tiap individu mengerti emosi dirinya sendiri dan emosi orang lain agar bisa mengelola dan memberikan respon yang terbaik. Menyayangi diri sendiri dan memenuhi kebutuhan diri agar sehat serta bahagia sangat penting untuk menjaga Kesehatan Mental,” ujar Anggun.
Pembicara ketujuh, Roy T. Amboro, ST., MBA, Co-Founder NLI Institute, mengatakan kepemimpinan artinya bukan datang dari posisi tapi dari perbuatan, maka kepemimpinan bisa dilakukan oleh siapapun.
Diskusi NLF-7 ini dilaksanakan dalam rangka merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-76, Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh oleh NLI Institute sebagai Lembaga non profit yang bergerak di bidang pendidikan dan pengembangan kepemimpinan berbasis kinerja otak (Neuroscience) yang dibantu oleh para Faculty Member Academy Neuroleadership Indonesia Institute.
Dalam NLF-7, yang mengemuka ada empat point kejutan besar dari Social Cognitive Neuroscience, yaitu, pertama, pada hakekatnya, manusia itu irrasional, karena 95% dari keputusan dilakukan oleh pikiran bawah sadar/subconscious).
Kedua, dasar utama keputusan manusia adalah faktor sosial dari lingkungan terdekat. Ketiga, selama ini, penanganan emosi dilakukan secara salah kaprah, dan keempat, atensi bisa merubah otak.
Selain itu, ada tiga hal yang bisa dilakukan oleh otak manusia, yakni, membangun kebiasaan memitigasi “bias”, yg merupakan sifat otak normal; meningkatkan kapasitas mental dengan cara melatih Prefrontal Cortex agar memimpin Limbik; dan memperbanyak silaturahmi dan networks yang konstruktif dan memberdayakan.
Maka Neuroleadership in Action adalah ketika pemimpin dapat membangun: Otak Sehat, yaitu Normal Brain + Constructive Thinking + Spiritual Values; Limbik yang Cerdas, artinya memiliki emotional intelligent dan unconsciously smart; dan transformative result dari memaksimalkan kekuatan otak, mempunyai visi tujuan ideal sehingga mampu merubah problem menjadi asset.
Acara berjalan dengan lancar, dimana peserta yang aktif bertanya diberikan give away berupa buku yang berjudul Hack The Brain serta e-Certificate. Acara ini di tutup oleh Chairman Organizing Committee NLF-7, Indra Kurniawan SE, ELT. (roma)


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini