Politik Muka Dua di Demokrat dan Sikap Ayah Saya

Pimpinan Redaksi Menit Indonesia
Oleh Andi Besse Nabila Saskia
DI panggung politik, memang banyak bahlul. Banyak juga berjubah suci di balik jiwa yang kotor, ada yang sok pejuang tapi sesungguhnya pecundang. Ada yang sok kaya, tapi sesungguhnya dililit hutang. Tapi itulah politik. Panggung Dramaturgi yang diminati sebagian orang-orang hipokrit.
Partai Demokrat, setelah mengalami turbulenci akibat adanya infiltrasi (penyusupan) kader–oleh kaum hipokrit–dipaksa untuk lebih dewasa memilah kader-kadernya. Sebab dalam suatu organisasi politik, loyalitas kepada partai itu dibutuhkan. Bukan kepada individu. Misi partai untuk bangsa dan negara, harus diperjuangakn secara bersama dalam bingkai kepartaian. Bukan diperjuangkan melalui retorika semu. Seolah-seolah perjuangan partai itu adalah perjuangan individu.
Pasca Keputusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak permohonan Yusril Ihza Mahendra, SH, konsultan hukum bayaran KSP Moeldoko itu–menggugat hasil Kongres ke V Partai Demokrat–ada kebutuhan akademis bagi Demokrat untuk mengevaluasi rekruitmen kepemimpinan di tingkat  Dewan Pimpindan Daerah (DPD/Provinsi) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC), pasca kisruh atau Kongres Luar Biasa (KLB) Deli Serdang.
Setelah kubu Moeldoko gagal melakukan pengambilalihan secara ilegal, dan meskipun hasil KLB itu tidak diakui pemerintah dan permohonannya terhadap hasil Kongres ke V ditolak MA, upaya pengambil alihan itu belum bisa dianggap selesai. Gerakan politik pengambilalihan itu harus dijadikan sebagai bahaya “laten” bagi Demokrat.
Pasca KLB, politik muka dua berpotensi merebak di internal kader Demokrat saat ini. Apalagi menjelang agenda konsolidasi DPD dan DPC yang akan dilakukan melalui Musyawarah Daerah, yang kemudian dilanjutkan dengan Musyawarah Cabang, yang mesti tuntas sebelum even Pemilu 2024.
Politik “Muka Dua” ini menjadi agenda infiltrasi ke dalam partai demokrat untuk menguasai DPD dan DPC, hingga kemudian agenda KLB jilid II akan mudah diorganisir jika pemilik suara sudah bergeser ke para kader ber “muka dua” yang tidak loyal kepada partai itu.
Sebagai Chief Editor media ini, saya sering menugaskan jurnalis mewawancarai sejumlah kader demokrat saat terjadinya KLB. Dari diskusi dengan jurnalis kami, saya mengetahui banyak yang enggan berkomentar mendukung kubu DPP Partai Demokrat di bawah komando AHY. Juga mereka tidak berani manampakkan dukungan kepada KLB secara terang-terangan. Seperti gaya Pablo Escobar, saat memasuki belantara politik di Kolombia, ia memilih diam, tapi menggerakkan para loyalis-loyalisnya ke semua kubu yang berkonflik. Ia memakai cara politik “Muka Dua”.
Bahkan, para kader “Muka Dua” itu, dengan nada pesimis, pun mengira karier AHY di Demokrat akan selesai, karena adanya gerakan yang diprakarsai Kepala Staf Presiden (KSP) Moledoko. Ada kesan, mereka menunggu di tikungan, apabila Moeldoko berhasil merebut Demokrat dari AHY, mereka sudah siap dengan proposal untuk mengambil alih Partai Demokrat di Daerah hingga di Kabupaten dan Kota. Sebaliknya, jika AHY berhasil mempertahankan sertifikat Demokrat dalam genggamannya, mereka juga sudah memiliki proposal untuk agenda 2024.
Saya mendengar dalam sebuah diskusi di Warung Kopi, sejumlah pendukung KSP Moeldoko, sempat berujar, kalau KLB Deli Serdang gagal, mereka menyiapkan hidden agenda: menggelar KLB jilid dua setelah mereka berhasil merebut pimpinan daerah dan cabang partai demokrat sebelum Pemilu 2024.
Meskipun saya tidak pernah menjadi kader atau pengurus Demokrat, saya tersentak kaget dan mengatakan kepada ayah saya (ia kader partai berlogo mercy) itu: “Kurangilah berpolitik, jadilah simpatisan partai saja. Kalau mau berpolitik loyallah kepada partai dan konstitusi partai, jangan loyal kepada individu di dalam partai. Tak zaman lagi orang berpolitik tanpa standar moral!”
Saya tahu, ayah saya adalah politisi yang idealis. Dia memang berpolitik tanpa menonjolkan diri dan tak suka mempengaruhi orang dengan cara sok kaya. Namun, satu hal yang dia miliki: Prinsip! Politik adalah memperjuangkan agenda partai, visi dan misi partai untuk rakyat dan masa depan negeri. Saat terjun menjadi tim sukses ayah saya di Pileg 2019, lalu, dia tak kenal lelah bertarung, siang dan malam, kami mendatangi warga untuk meminta secara langsung agar dipilih di Pileg. Ia sangat mengidolakan SBY, ikon partainya, lalu ia mengajak orang di Dapilnya memilih dirinya sebagai caleg Demokrat.
Tak elok saya menceritakan soal ayah saya. Namun, dia adalah kader partai yang memihak kepada yang benar. Kadang ia diajak untuk bergabung dengan Demokrat kubu Moeldoko dan diiming-iming untuk mendapatkan hadiah pergantian antar waktu (PAW) di DPRD Sulsel. Oh, posisi ayah saya adalah PAW 1 dari salah seorang Anggota Legislatif Demokrat di DPRD Provinsi Sulawesi Selatan.
Sungguh. ia justru menolak konspirasi jahat itu dan mengatakan kepada penelepon-penelpon itu, bahwa ia tidak berminat menjadi Anggota DPRD dengan cara-cara mengkhianati partai. Bahkan, saya sempat mendengar dari mulutnya ucapan lantang: “Sampaikan salam ****** kepada Johny Allen. Saya bukan kader bahlul, wajah saya hanya satu!” Ia juga menyuruh Johny Allen melalui si penelpon itu bertobat Politik!
Memang beda. Teman ayah saya yang juga saya kenal sebagai petinggi demokrat. Suatu ketika, temannya itu sok menasehati ayah saya di sebuah Warkop, tak jauh dari mereka saya mendengar. Temannya mengatakan, negara menolak AHY memimpin partai, karena usianya masih culung dan pangkatnya hanya mayor. Menurut temannya itu, jika AHY memimpin Demokrat dan memaksa menjadi Capres nanti, TNI merasa direndahkan karena seorang bekas mayor akan menjadi Panglima Tertinggi.
Mereka berdebat. Sengit. Logika ayah saya benar. AHY setelah mundur dari TNI dan memilih jalur politik, maka dia adalah sipil sejati: bukan pensiunan dan tak lagi punya kaitan dengan TNI! Kepemimpinan AHY,  tak bisa diukur dari pangkat bekas mayor TNI, kata ayah saya, AHY juga tak bisa dibanding-bandingkan dengan seorang Jenderal Purnawirawan. “Posisi politik dalam partai tak terkait dengan posisi pangkat yang pernah disandang di militer atau di birokrasi,” ucap ayah saya meluruskan.
Melalui lini masa di sosial media temannya itu, saya melihat orang itu memajang foto AHY bersama dirinya dan seolah-olah dia adalah kawan karib AHY tanpa jarak. Saya meludah ke lantai! Inilah sejatinya bahlul dan politikus bermuka dua!
Kisah-kisah ini saya rekam dalam memori saya dari dekat, dan dekat sekali. Saya tertarik menuliskannya karena saya tahu ayah saya telah bersikap: tak lagi ingin terjun menjadi Caleg, namun ia tetap memilih menjadi kader Demokrat, meskipun di partai besutan SBY itu ayah saya bukan siapa-siapa lagi. Bahkan ketika ia diajak untuk bergabung di salah satu partai, saya terkesima dengan jawabannya:
“Saya telah diberi kehormatan Demokrat menjadi Legislatornya selama dua periode (10 tahun). Saya pernah berada di panggung terhormat melalui demokrat! Pindah partai setelah menikmati manisnya partai, adalah perbuatan nista!”
Ia tetap memilih menjadi kader biasa-biasa saja, sebagai jamaah shaf belakang–tanpa khianat!


2 KOMENTAR

  1. Salut dgn kader seperti Ayah anda, karena berjuang bukan untuk menonjolkan diri dimuka umum ataupun di Medsos, akan tetapi berjuang dgn hati ikhlas mengharumkan nama partai Demokrat dgn melakukan hal yg paling terkecil dalam lingkungan keluarga, tetangga dan warga sekitar.
    Dgn tdk menggunakan kesempatan nama besar Partai Demokrat untuk mengeruk keuntungan pribadi. (Nauzubillahiimindzaliq)
    Semoga Ayah anda diberikan kesehatan dan umur panjang agar tetap bisa berjuang untuk selalu menjadi pejuang yg hakiki.
    Tolong sampaikan salam Hormat dari saya secara pribadi kepada Ayah anda yg dapat menjadi contoh tauladan yg baik di zaman seperti sekarang ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini