Menelusuri Kebaikan Hati Haji Isam

Haji Isam (kiri) bersama penulis (Yasidin), kanan.
Oleh Yasidin 
(aktivis 98 / Alumni Unhas)
menitindonesia – Meskipun jarang tampil di depan publik, nama Haji Isam sangat dikenal karena kebaikan hatinya. Membangun Mesjid di Tanah Bumbu hingga membiayai ribuan orang untuk melaksanakan ibadah umroh.
Andi Syamsuddin Arsyad atau dikenal dengan nama Haji Isam, orang terkaya di Batu Licin, Kalimantan Selatan. Ia dikenal sebagai pemilik PT Jhonlin Agro Raya Tbk. Usahanya bergerak di bidang perkebunan dan minyak kelapa sawit.

BACA JUGA:
Turnamen Mobile Legend, Ahmad Susanto dan Dispora Kompak Dorong E-sport Menuju Olahraga Prestasi di Makassar

Kebaikan hati Haji Isam selalu menjadi perbincangan warga, dari mulut ke mulut. Ia memberangkatkan ratusan warga di Batu Licin untuk melaksanakan ibadah Umroh, di Mekah, Arab Saudi. Pada Februari 2023, tak tanggung, jumlah orang yang mendapat kesempatan ibadah umroh bersama Jhonlin Group, sebanyak 800 orang.
Ternyata, program umroh bersama ini, sudah lama dilaksanakan oleh kelompok usaha Jhonlin. Sifat dermawanan Haji Isam ini, pun membuat namanya harum.
Ketika kita berpikir tentang orang kaya, terkadang yang muncul stereotip, seolah-olah orang kaya itu rakus, terlalu fokus pada kepentingan pribadi dan abai pada masalah-masalah sosial. Namun, dalam realitasnya, Haji Isam mengubah perspektif tersebut. Ia mempraktikkan kedermawanan yang tulus dengan tujuan mendorong hadirnya kebersamaan di dalam masyarakat.
Saya ingin menelusuri kedermawanan seorang Haji Isam, bangsawan Bugis asal Kabupaten Bone yang berhasil menjadi pengusaha sukses di Kalimantan Selatan. Ia menjadi fenomena orang kaya yang menggunakan kekayaan sebagai sumber daya untuk memperbaiki akhlak manusia di tengah dunia yang terus berkembang.
Fenomena Haji Isam mengubah cara kita melihat kelompok orang kaya dalam masyarakat. Sebagai individu, Haji Isam memiliki sumber daya finansial yang substansial. Ia memanfaatkan kesempatan untuk memberikan konstribusi yang siginifikan terhadap perubahan sosial.
Sebagai orang kaya, Haji Isam mempraktekkan kedermawanan untuk menggunakan kekayaannya sebagai alat mengatasi ketidaksetaraan, memajukan pendidikan, meningkatkan spiritualitas masyarakat dengan membangun rumah-rumah ibadah, meningkatkan kualitas iman dengan memberangkatkan warga melaksanakan ibadah umroh atau memberi dukungan inisiatif lingkungan.
Haji Isam mengerjakan kedermawanannya tanpa heboh di hadapan publik. Tak ada konten yang dibuat untuk kepentingan pencitraan. Ia tak mau populer, tapi secara massif, banyak orang yang merasakan kebaikan hatinya.
Motivasi Haji Isam
Dalam melaksanakan kedermawanannya, Haji Isam melakukannya dengan bervariasi. Haji Isam memiliki dorongan intrinstik, semacam tanggungjawab moral untuk berbagi keberuntungan dengan mereka yang kurang beruntung.
Ia memahami bahwa kekayaannya adalah hasil dari kombinasi kerja keras, peluang dan faktor luar yang mungkin di luar kontrolnya. Oleh karena itu, Haji Isam memiliki tanggungjawab untuk memberi manfaat kepada masyarakat.
Selain dorongan moral, saya juga melihat ada dorongan ekstrinsik yang mendorong kedermawanan Haji Isam. Beberapa mungkin terinspirasi oleh pengalaman pribadi atau kejadian di lingkungan sekitarnya yang menyadarkannya akan ketidakadilan sosial. Haji Isam memiliki pemahaman yang mendalam tentang masalah sosial, mungkin melihat kedermawanan sebagai strategi jangka panjang untuk menciptakan perubahan yang berarti.
Strategi Kedermawanan
Orang kaya yang ingin mencapai dampak sosial yang signifikan melalui kedermawanan sering kali mengadopsi strategi yang terencana dan berkelanjutan. Mereka bisa mendirikan yayasan amal, menanam investasi sosial, atau membangun kemitraan dengan organisasi non-pemerintah yang memiliki visi yang sejalan dengan tujuan mereka.
Strategi ini memungkinkan Haji Isam untuk mengeluarkan potensi kedermawanannya secara konsisten, memberdayakan komunitas yang membutuhkan, dan mendukung program-program jangka panjang yang berkelanjutan.
Berada di zona nyaman sebagai crazy rich yang masih muda, lahir di Batu Licin pada 1 Januari 1977. Ia berasal dari keluarga bangsawan di Kabupaten Bone, Sulsel. Ia tinggal di dalam bangunan mewah di atas tanah seluas 20 hektar.
Dari zona nyaman itu, Haji Isam memunculkan potensinya kedermawanannya. Merangkul semua kalangan dan mengajak mereka bersama membangun lingkungan sosial yang nyaman, damai, aman dan sejahtera.
Sebahagian dari keuntungan usahanya digununakan untuk kegiatan sosial, membantu orang-orang susah, dan memberdayakan potensi di lingkungan sekitarnya. Secara individu, Haji Isam menggunakan potensi kebaikannya sebagai manusia untuk merasakan dan memahami perasaan dan pengalaman orang lain. Empati inilah yang membuatnya selalu terhubung dengan penderitaan orang lain atau sekitarnya.
Selain empati, juga tampak altruisme, yaitu kecenderungan untuk membantu orang tanpa mengharapkan imbalan. Ini semacam naluri yang dimiliki Haji Isam untuk berbagi kebaikan dan sumber daya yang dimiliki.
Karakter orang kaya seperti yang tercermin pada sosok Haji Isam, perlu menjadi pelajaran bagi warga bangsa. Rasa keadilan untuk mencegah disparitas sosial bisa saja mudah diwujudkan jika semua orang kaya memiliki kepedulian dan solidaritas sosial.
Keetika semua orang bisa merasakan kebaikan hati orang-orang kaya yang ada di sekitarnya, maka di situlah akan tumbuh kasih sayang di antara warga. Bukankah itu yang ingin dicapai: terwujudnya masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera.