Pengamat Politik Sarankan Gerindra Jadi ‘Ketua Kelas’ di Pilgub Sulsel: Masa Jadi Follower?

FOTO: Massa Gerindra di Kampanye Pilpres 2024. (foto Antara)
menitindonesia, MAKASSAR – Eskalasi politik di Pilgub Sulsel mengerucut pada dua poros politik: NasDem dan Gerindra. Setelah Partai NasDem dan PAN memutuskan pasangan calon (paslon) gubernur yang akan diderek ke dalam lintasan Pilkada Gubernur (Pilgub) Sulsel 2024, Andi Sudirman Sulaiman-Fatmawati Rusdi (ASS-Fatma), Partai Gerindra besutan Prabowo Subianto, pun hingga saat ini belum menentukan siapa paslon yang akan diberi mandat.
Menurut pengamat politik dan peneliti pada Yayasan Lembaga Kajian Pembangunan (LKP), Muhammad Asrul Nurdin, S.Pd., Paslon ASS-Fatma tak lagi pusing mencari kendaraan politik. Sebab, kata dia, kursi NasDem yang mengontrol 17 kursi DPRD Sulsel 2024-2029 sudah cukup untuk memenuhi syarat–mengusung tanpa koalisi, sekalipun. PAN yang mengontrol 7 kursi, menfollow sikap NasDem di Pilgub, sehingga membuat pasangan ini mengatongi total 24 kursi. Syarat untuk mengusung calon di Pilgub Sulsel, minimal mendapat dukungan 17 kursi dari 85 kursi di DPRD Provinsi.
BACA JUGA:
Pj Gubernur Sulsel Prof Zudan Ajak Masyarakat Pulihkan dan Lestarikan Lingkungan
“Sekarang ASS-Fatma sudah bisa fokus menambah elektoralnya di masyarakat, dan sisa menunggu siapa bakal lawannya di Pilgub nanti,” kata Muhammad Asrul Nurdin, S.Pd., kepada Jurnalis media ini di Makassar, Kamis (6/6/2024).
Tak hanya itu, lanjut alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar itu, ASS-Fatma, bisa saja membiarkan partai-partai lain mencari siapa lawan yang mudah mereka kalahkan, dengan melepas beberapa partai yang berpotensi menjadi poros selain poros NasDem-PAN.
“Gerindra harus menjadi ketua kelas di Pilgub Sulsel, karena Gerindra sangat berpotensi membangun koalisi baru dengan Golkar untuk menantang petahana yang didesign oleh NasDem. Masa sih, Gerindra mau jadi follower politik,” katanya.
BACA JUGA:
Di WCS 2024, Danny Pomanto jadi Tamu Terhormat Menteri dan Presiden Singapura untuk Diskusi Soal Pengembangan Smart City serta Hubungan Bilateral Kedua Negara
Muhammad Asrul menerangkan, jika Gerindra dan Golkar berkoalisi memajukan calon di luar calon yang diusung oleh NasDem, maka skema tiga paslon yang masuk gelanggang Pilgub, sangat berpotensi terjadi. “Skema tiga calon ini, rumus politiknya, akan menguntungkan ASS-Fatma sebagai petahana. Sebab suara haters-nya, pemilih yang tidak puas kinerja Sudirman selama ini, tidak solid lagi dan terbelah kepada dua lawan petahana,” kata dia.
Selain itu, Muhammad Asrul juga mengungkapkan, bahwa potensi terjadinya head to head di Pilgub Sulsel, pun bisa terjadi. Dia mengatakan, bahwa parpol–selain NasDem dan PAN–yang belum memutuskan paslonnya, bakal mengerucut kepada persepsi yang sama untuk membangun koalisi ideal: menghadirkan penantang bagi koalisi NasDem-PAN yang mengusung ASS-Fatma.
BACA JUGA:
Kepala dan Wakil Kepala Otorita IKN Mundur dari Jabatannya, Akbar Endra: Mereka Gerombolan Pengecut
“Sekarang komunikasi politik antara ketua-ketua parpol dan elit parpol di pusat harus intens. Apakah mereka mau menjadi follower politik NasDem di Sulsel atau membuat skema baru, menantang ASS-Fatma. Sisa mereka mengkalkulasi peluang menang jika berkoalisi, siapa figur paslonnya, siapa yang jadi cagub dan siapa cawagubnya,” ujar Muhammad Asrul.
Dia bilang, koalisi penantang petahana, akan terkendala pada perdebatan siapa figur kandidat gubernur dan wakil gubernur. Gerindra, menurutnya, pasti akan mendorong kadernya sebagai cagub atau cawagub. Sedangkan Golkar sudah memutuskan untuk mendorong kadernya, yakni Indah Putri (Bupati Lutra), Adnan Purichta Ichsan (Bupati Gowa) dan Ilham Arief Sirajuddin (mantan Wali Kota Makassar).
Menurut Muhammad Asrul, Gerindra akan mempersiapkan Ketua DPD Gerindra Sulsel Andi Iwan Aras (AIA) untuk masuk skema cagub atau cawagub, karena ini adalah momentum yang rugi jika disia-siakan oleh Gerindra.
“Sekarang posisi AIA pasti mengalami dilema. Pertama, dia harus mendapat restu Prabowo Subianto. Kedua, dia harus melepas posisinya sebagai Anggota DPR RI terpilih untuk periode ketiganya. Sehingga AIA harus bersikap di saat yang tepat, mengkalkulasi peluang menang dan menghitung agenda politiknya ke depan kalau dia masuk gelanggang Pilgub,” ujarnya.
Meskipun demikian, Muhammad Asrul berharap Gerindra menjadi ‘ketua kelas’ atau kingmaker di Pilgub Sulsel, karena momentum politik saat ini, sangat mengutungkan posisi Gerindra yang berhasil mengantar ketua umumnya, Prabowo Subianto, menjadi Presiden RI ke-8 hasil Pilpres 2024.
“Saya rasa, di Pilgub ini, parpol lain akan menunggu sikap Gerindra. Kalau mau, penetrasi politik untuk membangun koalisi gampang dilakukan. Para ketum parpol yang belum punya calon pasti menunggu arahan Prabowo di Pilgub,” tutup Muhammad Asrul.
(AE)