Never Give Up, Dewie Yasin Limpo: Perempuan Tangguh di Pusaran Politik dan Perjuangan

Dewie Yasin Limpo, Singa Betina dari Timur yang tak pernah padam. (ist)
Oleh Akbar Endra
(Jurnalis Menit Indonesia)
menitindonesia – INI peristiwa lama, momen penuh makna dalam hidup saya di masa pemerintahan Orde Baru. Kala itu, saya berkenalan dengan Dewie Yasin Limpo, tahun 1996, saat masih menjadi mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, angkatan 1992. Saat itu, saya dikenal sebagai demonstran vokal yang berani menyuarakan perubahan.
Suatu malam, setelah seharian sibuk dengan aktivitas kampus dan aksi demonstrasi, saya singgah di Tassa Café di Jalan Boulevar, Panakkukang–cafe pertama di Makassar. Di tengah alunan musik live, tiba-tiba seorang perempuan naik ke panggung. Bukan sekadar tamu biasa—ia adalah Dewie Yasin Limpo, pemilik kafe sekaligus seorang tokoh perempuan Sulawesi Selatan yang disegani.
BACA JUGA:
Rapim TNI-Polri 2025, Prabowo Tegaskan TNI-Polri Harus Mawas Diri dan Dekat dengan Rakyat
Malam itu, dengan penuh percaya diri, Dewie membawakan lagu “I Have a Dream” dari Westlife. Suaranya begitu merdu, membius seluruh pengunjung. Namun, yang lebih mengesankan bukan hanya kepiawaiannya dalam bernyanyi, tetapi juga wawasannya yang luas dan pemikirannya yang tajam tentang reformasi dan masa depan Indonesia.
Sebagai seorang politisi Partai Golkar di era Orde Baru, oleh Jenderal Wiranto, Dewie pernah digelari Singa Betina dari timur—tegas, berani, dan tak pernah ragu menyuarakan pendapatnya. Yang mengejutkan bagi saya malam itu adalah keberaniannya berbicara tentang reformasi.
Dalam obrolan panjang yang berlanjut hingga dini hari, ia tanpa ragu menyatakan dukungannya terhadap perubahan. “Indonesia harus menjadi negara demokratis yang benar-benar berpihak pada rakyat,” ucapnya mantap.
Di tengah masa yang penuh ketidakpastian, mendengar seorang tokoh dan pengusaha berbicara demikian adalah sesuatu yang luar biasa. Sejak saat itu, saya tahu bahwa Dewie bukan hanya seorang politisi, tetapi juga seorang pejuang sejati.

Lebih dari Sahabat dan Kakak…

Sejak pertemuan malam itu, hubungan kami semakin dekat. Dewie, yang lahir pada 11 Agustus 1959, usianya 12 tahun lebih tua dari saya yang saat itu masih 24 tahun. Namun, perbedaan usia tak menjadi sekat. Ia memperlakukan saya bukan hanya sebagai teman seperjuangan, tetapi juga seperti seorang adik yang selalu mendapat dukungan dan perlindungan.
IMG 20250131 WA0001 11zon 1
Dewie Yasin Limpo bersama Akbar Endra (penulis) pada tahun 2014. Janji ketemu setelah Dewie usai ditetapkan sebagai Anggota DPR RI terpilih Periode 2014-2019 dari Partai Hanura, dan Akbar Endra menjadi Anggota DPRD Maros terpilih untuk periode kedua 2014-2019 dari Partai Demokrat. (ist)
Dewie bukan hanya seorang pejuang di panggung politik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Ia selalu ada saat saya membutuhkan bantuan. Salah satu momen yang tak pernah saya lupakan adalah ketika ia dengan percaya diri meminjamkan mobil Honda Accord—salah satu kendaraan paling bergengsi saat itu—agar saya bisa menyelesaikan urusan penting.
BACA JUGA:
Mahkamah Konstitusi Umumkan Putusan Dismissal Sengketa Pilkada 2024 Pekan Depan
Lebih dari sekadar mobil, yang saya ingat adalah kepercayaannya kepada saya. Itu adalah bukti kepeduliannya, bentuk keyakinannya bahwa saya bisa menjadi seseorang yang lebih baik.
Meski jalan hidup membawa kami ke arah yang berbeda, persahabatan kami tak pernah luntur. Setiap pertemuan, baik di Makassar maupun Jakarta, selalu diwarnai diskusi penuh semangat, canda, dan kehangatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Kembali Berjuang di Tanah Rantau

Kini, takdir kembali mempertemukan kami di Jakarta. Seperti masa lalu, semangat perjuangan yang pernah kami bangun puluhan tahun silam kembali menyala.
Dewie tetaplah Dewie. Semangatnya tak pernah pudar. Setiap ujian yang datang dalam hidupnya justru menempa dirinya menjadi lebih kuat. Ia selalu percaya bahwa seorang pejuang sejati tak akan pernah menyerah, meski dihantam badai ketidakadilan. “Kesabaran dan ketabahan adalah kunci, hadapi semuanya dan yakin semua ada hikmah,” katanya suatu ketika.
Dan benar, ia bangkit kembali. Perlahan tapi pasti, ia kembali menapaki jalannya. Usia tak menjadi penghalang, karena sejatinya jiwa manusia tak pernah benar-benar tua atau muda—hanya fisik yang berubah.
Saya ingin selalu mensupportnya meraih cita-cita yang pernah kami impikan sejak sebelum reformasi. Bagi saya, Dewie Yasin Limpo bukan hanya sekadar tokoh perempuan tangguh. Ia adalah inspirasi, sahabat seperjuangan, kakak yang selalu memberi arti dan makna.
Ia memiliki karakter yang kuat, tak gentar menghadapi tantangan, dan selalu melangkah dengan keyakinan. Mungkin itulah yang membuatnya begitu istimewa bagi saya. Karena ia tidak hanya hadir dalam sejarah, tetapi juga menciptakan sejarah. (*)