China Balas Trump, Saham AS Rontok Parah, Harga Minyak Terendah Sejak Pandemi

Presiden AS Donald Trump
Tarif baru Donald Trump terhadap China memicu kekacauan pasar global. Bursa saham tumbang, harga minyak terjun bebas, dan inflasi Amerika diprediksi makin menggila. The Fed pun mulai waspada.
menitindonesia, JAKARTA — Dunia kembali diguncang kebijakan kontroversial dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Penerapan tarif balasan terhadap sejumlah negara, terutama China, bukan hanya memicu perang dagang jilid baru, tapi juga menyeret pasar keuangan global ke jurang koreksi.
BACA JUGA:
Jusuf Kalla Sebut Tarif Impor Trump 32 Persen Tak Akan Berefek Besar Bagi Indonesia
Langkah Trump yang dianggap agresif kini justru memunculkan kekhawatiran di dalam negeri sendiri, mulai dari gejolak saham, harga komoditas yang anjlok, hingga bayang-bayang inflasi yang kian nyata.

China Balas Tarif, Perusahaan AS Dihantam

Merespons langkah Washington, Beijing tak tinggal diam. Pemerintah China langsung mengenakan tarif baru sebesar 34% terhadap berbagai produk asal AS. Tak hanya itu, 11 perusahaan raksasa Amerika masuk daftar entitas yang dianggap “tidak dapat dipercaya”.
Dampaknya langsung terasa di lantai bursa. Investor panik. Dalam dua hari berturut-turut, indeks Dow Jones tercatat ambruk hingga 1.500 poin. Saham-saham teknologi ikut rontok—Apple merosot 7%, Nvidia 7%, dan Tesla turun tajam hingga 10%.

Harga Minyak Terendah Sejak Pandemi

Efek domino berlanjut ke pasar komoditas. Harga minyak dunia anjlok 8% pada perdagangan Jumat lalu, menjadi level terendah sejak masa pandemi Covid-19 tahun 2021.
BACA JUGA:
Genderang Perang Dagang AS, Indonesia Kena Tarif Impor Setara China dan Taiwan
Analis pasar menilai penurunan tajam ini tak lepas dari kekhawatiran akan menurunnya permintaan energi akibat perlambatan global yang dipicu oleh konflik dagang dan ketidakpastian kebijakan ekonomi AS.

Inflasi AS Mengancam, The Fed Belum Bergerak

Ketua The Federal Reserve, Jerome Powell, memperingatkan bahwa kebijakan tarif Trump bisa berdampak negatif terhadap perekonomian Amerika. Ia menyebut tekanan inflasi akan meningkat, sementara pertumbuhan bisa tertahan.
Namun Powell memilih bersikap hati-hati dan belum akan menyesuaikan suku bunga dalam waktu dekat.
“Kami dalam posisi menunggu kejelasan sebelum mempertimbangkan penyesuaian kebijakan. Terlalu dini mengatakan arah kebijakan moneter yang tepat,” ujarnya.

Trump Desak The Fed Pangkas Suku Bunga

Di sisi lain, Trump dilaporkan terus mendesak The Fed agar segera memangkas suku bunga demi mendukung strategi tarifnya. Namun tekanan politik ini mendapat penolakan dari Powell yang ingin menjaga independensi bank sentral.
Ketegangan antara Gedung Putih dan bank sentral pun makin terbuka, menciptakan ketidakpastian tambahan bagi pasar dan pelaku usaha global.

Dunia Kembali di Persimpangan

Tarif Trump bukan hanya mengguncang lawan dagangnya, tetapi menciptakan ketidakpastian mendalam dalam negeri sendiri. Dengan pasar keuangan yang terus bergejolak, harga energi tertekan, dan inflasi yang mengintai, dunia kini berada di persimpangan antara resesi dan pemulihan.
(akbar endra | Menit Indonesia)