Deputi 1 BPOM RI William Adi Teja bersama Kepala Biro Kerja Sama dan Humas BPOM RI Lynda Kurnia Wardhani saat pertemuan strategis dengan WHO di Jenewa, Swiss (2/9/2025). Diskusi ini menjadi bagian dari upaya BPOM menuju WHO Listed Authority (WLA) serta memperkuat peran Indonesia dalam regulasi obat, vaksin, dan produk farmasi di tingkat global.
WHO kasih apresiasi besar untuk BPOM Indonesia. Dari pengembangan vaksin mRNA hingga rencana jadi tuan rumah forum farmasi global 2027, langkah ini disebut bisa bikin Indonesia sejajar dengan FDA Amerika dan EMA Eropa.
menitindonesia, JENEWA, SWISS – Di sebuah ruang pertemuan di markas besar WHO, delegasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI disambut hangat. Pertemuan itu bukan sekadar agenda diplomasi rutin, melainkan langkah besar menuju cita-cita Indonesia menjadikan sistem regulasi obat dan makanan setara standar global.
Dipimpin Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif, William Adi Teja, serta Kepala Biro Kerja Sama dan Humas, Lynda Kurnia Wardhani, delegasi BPOM berdiskusi intens dengan jajaran pejabat tinggi WHO, termasuk Yukiko Nakatani, Assistant Director-General Division of Health Systems, Access and Data.
William menegaskan misi utama BPOM: memastikan produk farmasi Indonesia—obat, vaksin, hingga bioterapeutik—memenuhi standar tertinggi, tidak hanya untuk kebutuhan dalam negeri, tetapi juga untuk pasar internasional, khususnya kawasan Asia.
Delegasi BPOM RI yang dipimpin Deputi 1 BPOM William Adi Teja dan Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Lynda Kurnia Wardhani berfoto bersama jajaran pejabat tinggi WHO usai pertemuan strategis di Jenewa, Swiss (2/9/2025). Pertemuan ini membahas penguatan regulasi obat, vaksin, dan produk farmasi Indonesia menuju status WHO Listed Authority (WLA) serta rencana Indonesia menjadi tuan rumah Global Local Production Forum 2027.
BPOM Bakal Sejajar Regulator Obat Dunia
Apresiasi datang dari WHO. Nakatani menyoroti kontribusi Indonesia dalam pengembangan vaksin berbasis mRNA di masa pandemi COVID-19. WHO bahkan melihat potensi besar Indonesia di bidang pengembangan produk darah dan derivatifnya, meski saat ini kapasitas produksi masih terbatas.
“Komitmen pada standar GMP dan kerangka Global Benchmarking Tools akan menjadi kunci,” ujar Deusdidit Mubangizi, Director Department of Medicines and Health Products Policies and Standards WHO, Rabu (4/9/2025).
Tak berhenti di sana, pertemuan juga membahas penilaian menuju predikat WHO Listed Authority (WLA). Gelar ini akan menempatkan BPOM sejajar dengan regulator obat dunia seperti FDA (Amerika) atau EMA (Eropa). Hasil inspeksi awal bahkan sudah dinilai positif oleh WHO.
Selain diskusi regulatori, WHO membuka peluang Indonesia menjadi tuan rumah The 4th Global Local Production Forum 2027, forum prestisius yang akan mempertemukan regulator dan industri kesehatan dunia. Jika terwujud, Indonesia akan menjadi negara pertama di kawasan Pasifik Barat yang dipercaya menyelenggarakannya.
Delegasi BPOM juga menyempatkan diri bertemu warga negara Indonesia yang bekerja di WHO. Dari pertemuan itu lahir gagasan kolaborasi konkret: memperkuat akses obat TBC terbaru, mengurangi ketergantungan impor plasma darah, hingga meningkatkan kesiapsiagaan pandemi.
“Langkah-langkah ini akan memastikan produk kesehatan nasional mampu bersaing di tingkat global, sekaligus melindungi 280 juta rakyat Indonesia,” tegas William menutup pertemuan.
Dengan dukungan WHO, BPOM kini berada di jalur percepatan menuju regulator kelas dunia. Sebuah lompatan strategis yang bukan hanya soal standar internasional, tapi juga martabat Indonesia di panggung global. (AE)