Strategi Taruna Ikrar: BPOM Siapkan 1000 UMKM Herbal dan Kosmetik Indonesia ke Pasar Global

Kepala BPOM Taruna Ikrar memberikan keterangan kepada media saat peluncuran program 1000 UMKM PROAKTIF di Jakarta, Kamis (12/3/2026), sebagai upaya mendorong UMKM obat bahan alam dan kosmetik Indonesia menembus pasar global.
  • Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas yang menjadikannya salah satu sumber bahan baku herbal terbesar di dunia. Namun potensi itu tidak dengan sendirinya berubah menjadi kekuatan industri. Di sinilah strategi kebijakan dan kolaborasi menjadi penentu apakah kekayaan alam mampu menjelma menjadi daya saing global.
menitindonesia, JAKARTA — Di tengah meningkatnya tren industri kesehatan dan wellness dunia, produk berbasis bahan alami semakin diminati. Herbal, obat tradisional, hingga kosmetik berbahan alam kini menjadi bagian dari pasar global yang terus berkembang.
Bagi Indonesia, peluang ini bukan hal baru. Tradisi pengobatan herbal telah hidup dalam budaya masyarakat selama ratusan tahun. Akan tetapi untuk membawa produk-produk tersebut masuk ke pasar internasional, dibutuhkan standar produksi yang kuat, regulasi yang adaptif, serta ekosistem industri yang terbangun dengan baik.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., melihat bahwa penguatan UMKM menjadi salah satu kunci untuk membuka jalan tersebut.
BACA JUGA:
Sekolah Rakyat Diperluas, Budiman: Investasi Masa Depan untuk Putus Rantai Kemiskinan
Melalui program 1000 UMKM PROAKTIF (Program Orang Tua Angkat Kolaboratif) yang diluncurkan di Jakarta, Kamis (12/3/2026), BPOM berupaya mempertemukan regulator, industri besar, dan pelaku UMKM dalam satu ekosistem kolaboratif.
“Kick-Off 1000 UMKM PROAKTIF menjadi langkah konkret untuk memperkuat kolaborasi dalam mendorong UMKM obat bahan alam dan kosmetik agar bangkit, berdaya saing, dan mampu menembus pasar global,” kata Taruna Ikrar.
Program ini dirancang sebagai upaya memperkuat fondasi industri kesehatan nasional, sekaligus membantu UMKM meningkatkan kapasitas usaha.
Dalam peluncuran tersebut BPOM juga memperkenalkan virtual tour Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB), serta meluncurkan modul start-up bagi pelaku usaha obat bahan alam dan kosmetik.
Modul tersebut secara simbolik diserahkan kepada dua UMKM, yakni Greenovasi Herbal Indonesia dan Madu Aswaja, sebagai bagian dari upaya mempercepat peningkatan kapasitas usaha.
Picsart 26 03 12 22 19 59 867 11zon
Program 1000 UMKM PROAKTIF BPOM yang digagas Kepala BPOM Taruna Ikrar untuk memperkuat kolaborasi industri, pendampingan regulasi, dan mendorong produk obat bahan alam serta kosmetik Indonesia menembus pasar global.

Membangun Ekosistem Industri

Dalam perkembangan industri kesehatan modern, regulator tidak lagi hanya menjalankan fungsi pengawasan. “Ia juga berperan sebagai penggerak ekosistem industri,” ujar Taruna.
BPOM melihat bahwa banyak pelaku UMKM menghadapi kendala dalam proses legalisasi usaha, pemenuhan standar produksi, hingga memperoleh Nomor Izin Edar (NIE). Tanpa proses tersebut, produk sulit memasuki pasar yang lebih luas.
Data BPOM, ungkap Taruna, menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir UMKM sektor kosmetik mengalami pertumbuhan sekitar 49 persen, sementara sektor obat bahan alam meningkat sekitar 7 persen.
BACA JUGA:
Mudik Lebaran 2026, Bandara Hasanuddin Siagakan 1.254 Personel
Angka ini menunjukkan bahwa sektor tersebut terus berkembang, tetapi masih membutuhkan penguatan ekosistem agar pertumbuhannya lebih cepat dan berkelanjutan.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah skema Orang Tua Angkat (OTA)—model kolaborasi yang mempertemukan industri besar dengan UMKM.
Melalui skema ini, perusahaan besar diharapkan dapat mendampingi pelaku usaha kecil dalam meningkatkan kualitas produksi, manajemen usaha, hingga akses pasar.
Namun partisipasi industri masih relatif terbatas. Dari sekitar 160 industri obat tradisional, baru sekitar 14 persen yang terlibat dalam program pendampingan UMKM. Sementara dari 145 industri kosmetik, partisipasinya baru sekitar 7 persen.
Karena itu BPOM mendorong lebih banyak pelaku industri untuk terlibat dalam mendampingi 1.000 UMKM melalui program PROAKTIF.
Perwakilan PT Pharmacia Herbal, Verawaty, mengatakan program pendampingan tersebut membantu pelaku usaha memahami proses legalisasi perusahaan hingga pemenuhan standar produksi.
“Motivasi kami mengikuti program ini adalah agar usaha kami bisa naik kelas dan menghasilkan produk yang berkualitas,” ujarnya.
Jika ekosistem ini berkembang secara konsisten, UMKM tidak hanya menjadi penggerak ekonomi domestik.
Lebih dari itu, mereka berpotensi menjadi wajah baru industri herbal dan kosmetik Indonesia di pasar global.
Perjalanan menuju pasar dunia memang tidak singkat. Ia membutuhkan konsistensi regulasi, kolaborasi industri, serta ketekunan para pelaku usaha.
Namun dari langkah yang dimulai hari ini—dari seribu UMKM yang dipersiapkan—Indonesia sedang menata fondasi agar produk herbal dan kosmetik nasional suatu saat mampu berdiri sejajar di pasar global.