Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., menerima pengakuan akademik internasional sebagai Adjunct Professor bidang Advanced Cell and Gene Therapy Pharmacology dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Malaysia. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas kontribusinya dalam pengembangan terapi sel dan terapi gen yang kini berkembang pesat di dunia kesehatan modern. (Foto: Istimewa)
Oleh Akbar Endra (Staf Ahli Kepala BPOM RI Bidang Medsos dan Humas)
Pengakuan internasional yang diterima Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM) menegaskan kiprah ilmuwan Indonesia di panggung global. Di tengah revolusi terapi sel dan gen, Taruna meyakini masa depan pengobatan akan bergerak dari mengobati gejala menuju memperbaiki sumber penyakit pada tingkat sel dan gen manusia.
menitindonesia, JAKARTA — Dunia farmasi sedang memasuki babak yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika selama puluhan tahun obat dipahami sebagai pil, kapsul, atau suntikan yang meredakan gejala penyakit, kini ilmu pengetahuan mulai bergerak lebih jauh: memperbaiki akar persoalan penyakit langsung pada tingkat sel dan gen manusia.
Di tengah perubahan besar itu, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. Taruna Ikrar, memperoleh pengakuan akademik internasional sebagai Adjunct Professor bidang Advanced Cell and Gene Therapy Pharmacology dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM).
Pengakuan tersebut bukan gelar kehormatan akademik semata. Ia menjadi penanda bahwa kontribusi ilmiah putra Indonesia dalam bidang farmakologi modern mendapat perhatian di tingkat internasional, terutama dalam pengembangan terapi sel dan terapi gen yang kini menjadi salah satu frontier paling menjanjikan dalam dunia kedokteran.
Dalam pidato perdananya sebagai profesor tamu di Malaysia, beberapa waktu lalu, Taruna mengangkat tema Advanced Cell & Gene Therapy: Towards a New Era of Pharmacology Medicine. Sebuah topik yang menggambarkan perubahan paradigma besar dalam ilmu farmakologi global.
“Farmakologi sedang memasuki era baru. Jika sebelumnya obat berfungsi mengendalikan gejala penyakit melalui molekul kimia, kini sistem biologi dalam tubuh manusia itu sendiri dapat menjadi terapi,” ujar Taruna.
Pernyataan itu bukan teori. Dalam perkembangan terkini, terapi modern telah bergerak dari penggunaan molekul kimia menuju pemanfaatan sel hidup, materi genetik, dan mekanisme biologis tubuh manusia sebagai instrumen penyembuhan. Para ilmuwan menyebutnya sebagai living medicines atau obat hidup.
Konsep ini memungkinkan pengobatan tidak hanya menekan gejala penyakit, tetapi juga berpotensi memperbaiki penyebab penyakit pada tingkat molekuler dan genetik.
Dari Obat Kimia Menuju Rekayasa Sel dan Gen
Di berbagai negara, revolusi tersebut sudah berlangsung. Lebih dari 3.800 uji klinik terapi sel dan gen sedang berjalan di lebih dari 45 negara. Puluhan produk bahkan telah memperoleh izin edar dari regulator internasional.
Salah satu yang paling banyak menarik perhatian adalah CAR-T Cell Therapy, sebuah teknologi yang memodifikasi sel imun pasien agar mampu mengenali dan menghancurkan sel kanker secara spesifik.
Pada sejumlah kasus kanker darah seperti acute lymphoblastic leukemia (ALL), diffuse large B-cell lymphoma (DLBCL), dan multiple myeloma, terapi ini menunjukkan tingkat remisi yang sangat tinggi.
Selain itu, perkembangan vaksin berbasis sel dendritik juga membuka peluang baru dalam perang melawan kanker dengan memanfaatkan sistem imun tubuh sebagai senjata utama.
Namun revolusi yang lebih besar mungkin datang dari terapi gen. Melalui teknologi rekayasa genetika, ilmuwan kini mulai mampu memasukkan, mengganti, atau memperbaiki gen yang rusak dalam tubuh manusia. Pada penyakit seperti spinal muscular atrophy (SMA), terapi gen telah membantu memperbaiki fungsi saraf motorik pasien.
Sementara teknologi CRISPR-Cas9 mulai digunakan untuk menangani kelainan darah seperti talasemia dan sickle cell disease, penyakit yang selama puluhan tahun dianggap sulit disembuhkan secara permanen.
“Bagaimana jika kita dapat memperbaiki blueprint kehidupan untuk mengatasi penyakit yang sebelumnya dianggap tidak dapat disembuhkan?” kata Taruna.
Meski menjanjikan, jalan menuju masa depan tersebut tidak sepenuhnya mulus. Terapi sel dan gen menghadapi tantangan ilmiah yang sangat kompleks, mulai dari proses produksi yang bersifat personalisasi, stabilitas produk selama distribusi, potensi respons imun tubuh, hingga kemungkinan perubahan genetik yang tidak diinginkan.
Karena itu, inovasi harus berjalan beriringan dengan pengawasan yang ketat.
Sebagai regulator nasional, BPOM telah menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2025 tentang Pedoman Penilaian Produk Terapi Advanced yang mengatur seluruh siklus hidup produk terapi modern, mulai dari penelitian, uji klinik, produksi, registrasi hingga pengawasan pascapemasaran.
Menurut Taruna, kemajuan teknologi kesehatan hanya akan memberikan manfaat optimal apabila dibangun di atas fondasi tata kelola yang kuat.
“Perkembangan inovasi harus berjalan berdampingan dengan penguatan tata kelola. Tujuannya agar inovasi dapat berkembang secara bertanggung jawab dengan tetap mengutamakan perlindungan masyarakat,” tegasnya.
Lebih jauh, Taruna melihat terapi sel dan terapi gen bukan hanya persoalan sains, tetapi juga masa depan sistem kesehatan dan ekonomi global.
Berbeda dengan obat konvensional yang harus dikonsumsi berulang kali selama bertahun-tahun, terapi gen berpotensi dilakukan hanya sekali dengan manfaat terapeutik jangka panjang. Jika berhasil dikembangkan secara luas, model ini dapat mengubah wajah layanan kesehatan dunia dari pengobatan kronis menjadi terapi presisi yang lebih efektif.
Namun mewujudkan hal tersebut membutuhkan kolaborasi besar antara akademisi, industri, pemerintah, dan regulator.
Karena itu, Taruna mendorong model sinergi academia-business-government (ABG) agar hasil riset di laboratorium dapat bergerak lebih cepat menuju penerapan klinis yang aman dan terjangkau bagi masyarakat.
Baginya, masa depan farmakologi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga kemampuan membangun ekosistem yang mampu menjembatani inovasi dengan kepentingan publik.
Di titik inilah pengakuan akademik dari Malaysia menjadi lebih dari sekadar capaian personal.
Ia menjadi simbol bahwa Indonesia mulai diperhitungkan dalam percakapan global mengenai masa depan terapi sel dan terapi gen, sebuah bidang yang diyakini akan menentukan arah pengobatan dunia pada dekade-dekade mendatang.