Piala Dunia: 90 Menit di Lapangan, 24 Jam Mengawasi Obat

Oleh Akbar Endra
(Staf Ahli Kepala BPOM RI Bidang Medsos dan Humas)
menitindonesia, OPINI — Di balik gemerlap Piala Dunia 2026, ada sistem pengawasan obat, suplemen, dan keamanan pangan yang bekerja tanpa henti. Fair play tidak hanya dijaga oleh wasit di lapangan, tetapi juga oleh ilmu pengetahuan, laboratorium, dan pengawasan kesehatan yang memastikan setiap kemenangan diraih secara bersih.
Satu gol dapat mengubah sejarah sepak bola. Satu kapsul yang terkontaminasi juga dapat mengakhiri karier seorang pemain.
Miliaran pasang mata menyaksikan Piala Dunia 2026 melalui aksi memukau para bintang dunia. Publik menikmati duel taktik, penyelamatan gemilang, hingga selebrasi yang menjadi sejarah. Namun, jauh dari sorotan kamera, terdapat “pertandingan” lain yang berlangsung tanpa henti. Pertandingan itu dimainkan di laboratorium, ruang medis, pusat penelitian, hingga sistem pengawasan obat dan pangan yang menjadi fondasi integritas olahraga modern.
Pertandingan di lapangan berlangsung 90 menit. Pengawasan obat berlangsung 24 jam. Di era sepak bola modern, kemenangan tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas teknik, kekuatan fisik, dan kecerdasan strategi. Integritas kompetisi menjadi nilai yang sama pentingnya. Karena itu, FIFA bersama World Anti-Doping Agency (WADA) membangun sistem pengawasan berlapis untuk memastikan setiap atlet bertanding dengan kemampuan terbaiknya, bukan dengan bantuan zat yang melanggar aturan.
Kasus doping di putaran final Piala Dunia memang relatif sedikit dibandingkan sejumlah cabang olahraga lain. Namun, kondisi tersebut bukan berarti ancamannya telah hilang. Justru sebaliknya, rendahnya jumlah kasus menunjukkan bahwa sistem pencegahan, edukasi, dan pengawasan berjalan semakin efektif.
Sejarah mencatat salah satu peristiwa paling mengguncang terjadi pada Piala Dunia 1994 ketika Diego Maradona dinyatakan positif menggunakan ephedrine setelah pemeriksaan pascapertandingan. Dunia sepak bola kehilangan salah satu ikon terbesarnya di tengah turnamen. Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa satu pelanggaran mampu mengubah perjalanan sebuah tim sekaligus mendorong penguatan sistem anti-doping secara global.
Kini tantangannya berkembang jauh lebih kompleks. Ancaman tidak lagi hanya berasal dari penggunaan zat peningkat performa secara sengaja. Industri suplemen tumbuh pesat, perdagangan produk kesehatan melintasi batas negara, sementara risiko kontaminasi dalam proses produksi menjadi perhatian serius. Dalam sejumlah kasus internasional, atlet dinyatakan positif bukan karena berniat melakukan kecurangan, melainkan akibat mengonsumsi produk yang ternyata mengandung zat terlarang tanpa mereka ketahui.
Fakta tersebut mengubah cara dunia memandang pengawasan obat. Fokusnya tidak lagi hanya menemukan pelanggaran, tetapi juga mencegah pelanggaran terjadi melalui pengawasan sejak hulu.

Integritas Olahraga Dimulai dari Produk yang Aman

Dalam sistem yang diterapkan FIFA dan WADA, pengawasan dilakukan sebelum kompetisi dimulai, selama turnamen berlangsung, hingga setelah pertandingan usai. Pemain dapat dipilih untuk menjalani pemeriksaan urine maupun darah. Sampel kemudian dianalisis di laboratorium terakreditasi menggunakan standar ilmiah yang ketat untuk memastikan hasil pemeriksaan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Namun laboratorium hanyalah bagian akhir dari sebuah rantai pengawasan.
Sebelumnya terdapat proses panjang yang melibatkan dokter tim, ahli gizi, apoteker, tenaga medis, ilmuwan, hingga regulator kesehatan. Mereka memastikan obat yang digunakan sesuai kebutuhan medis, suplemen berasal dari sumber yang dapat dipercaya, dan pangan yang dikonsumsi memenuhi standar keamanan.
Perspektif tersebut juga menjadi relevan bagi Indonesia. Dalam pandangan Kepala BPOM RI Prof. Taruna Ikrar, pengawasan obat dalam olahraga modern tidak berhenti pada pemeriksaan doping. Sistem pengawasan harus dimulai jauh lebih awal dengan memastikan setiap obat, suplemen, vitamin, dan produk kesehatan yang dikonsumsi atlet memenuhi standar keamanan, mutu, serta tidak mengandung zat yang berpotensi membahayakan kesehatan maupun mencederai integritas kompetisi.
Menurut perspektif Taruna Ikrar, perkembangan industri suplemen global menghadirkan tantangan baru yang tidak dapat diabaikan. Produk yang diproduksi tanpa standar yang baik atau mengalami kontaminasi dapat menimbulkan konsekuensi serius, termasuk bagi atlet yang sama sekali tidak memiliki niat melakukan doping. Karena itu, pengawasan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari proses produksi, distribusi, hingga penggunaan produk.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa pengawasan obat bukan hanya isu olahraga, melainkan bagian dari sistem perlindungan kesehatan masyarakat. Prinsip yang diterapkan terhadap atlet dunia sesungguhnya sama dengan prinsip yang diterapkan kepada masyarakat luas: setiap produk kesehatan yang beredar harus memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan khasiat.
Dalam konteks itulah peran regulator menjadi sangat penting. Pengawasan tidak berhenti pada penerbitan izin edar, tetapi juga mencakup pengawasan setelah produk beredar, pengujian laboratorium, penindakan terhadap produk ilegal, serta edukasi agar masyarakat menggunakan obat dan suplemen secara tepat.
Bagi Taruna Ikrar, kepercayaan publik dibangun melalui sistem pengawasan yang kuat, konsisten, dan berbasis ilmu pengetahuan. Semakin baik kualitas pengawasan terhadap obat, suplemen, dan pangan, semakin besar pula jaminan bahwa masyarakat memperoleh produk yang aman, sementara atlet dapat berkompetisi secara adil tanpa dibayangi risiko penggunaan produk yang bermasalah.
Pelajaran terbesar dari Piala Dunia 2026 bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara.
Turnamen ini menunjukkan bahwa kemenangan tidak hanya dibangun melalui latihan keras, strategi yang matang, dan bakat luar biasa. Kemenangan juga lahir dari sebuah sistem yang memastikan setiap peserta memulai pertandingan dengan kesempatan yang sama.
Ketika jutaan penonton bersorak menyambut gol kemenangan, ada ilmuwan yang meneliti sampel, tenaga medis yang memverifikasi terapi, laboratorium yang bekerja dengan standar internasional, serta regulator yang memastikan produk kesehatan memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
Mereka mungkin tidak pernah berdiri di podium juara. Nama mereka tidak tercatat dalam daftar pencetak gol. Namun tanpa kerja mereka, kepercayaan terhadap olahraga tidak akan pernah berdiri kokoh.
Fair play ternyata tidak dimulai ketika wasit meniup peluit pertama. Fair play dimulai dari kepastian bahwa setiap atlet bertanding dengan tubuh yang sehat, produk kesehatan yang aman, dan integritas yang tidak dapat ditawar..