Elektabilitas Anjlok, PDI Perjuangan Ubah Strategi Menangkan Ganjar-Mahfud

Foto: Capres yang diusung PDI-P, Ganjar Pranowo. (ist)
menitindonesia, JAKARTA – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) mengubah strateginya untuk memenangkan pasangan capres-cawapres nomor urut 3, Ganjar Pranowo-Mahfud MD, karena efek coat tail effect (efek ekor jas) masih kalah pengaruh dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Ganjar-Mahfud tidak lagi didorong pada posisi berhadap-hadapan dengan Jokowi dan diminta lebih halus berkampanye serta mengidentikkan diri sebagai Jokowi untuk menarik suara para pendukung Jokowi.
BACA JUGA:
Pj Gubernur Bahtiar Kaget Lihat Antrian Kendaraan di SPBU Karena BBM Langka
“Secara elektoral, coat tail effect Ganjar tak sekuat Jokowi effect. Sehingga PDI-P balik badan supaya tak semakin ditinggalkan pendukung Jokowi yang banyak berimigrasi ke Gerindra atau memilih Prabowo-Gibran jika negative campaign terus dilakukan,” kata Direktur Trias Politika Strategis Agung Baskoro, dikutip dari media online nasional, pada Minggu (17/12/2023).
Agung memaparkan soal efek ekor jas bukan semata-mata soal elektabilitas pasangan capres-cawapres nomor urut 2 Prabowo Gibran yang masih tinggi, akan tetapi lebih kepada persepsi masyarakat atas kinerja pemerintahan saat ini.
BACA JUGA:
Andi Muhammad Arsjad : Insya Allah Selain Padi, Sulsel Juga Bakal Jadi Lumbung Produsen Pisang Terbesar di Indonesia
“Jokowi efek ini bukan soal elektabilitas Prabowo-Gibran, tetapi bagaimana Presiden Jokowi mampu menunjukkan kinerja yang positif dengan approval rating yang tinggi di kisaran 70-80 persen,” ujar Agung.
Survei Desember 2023–yang dilakukan secara independen–dirilis oleh Litabng Kompas, menunjukkan elektabilitas Prabowo-Gibran berada di urutan pertama dengan angka 39,3 persen.
Sedangkan elektabilitas pasangan nomor urut 1 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar hanya di angka 16,7 persen, sedangkan pasangan nomor urut 3 Ganjar Pranowo-Mahfud MD, elektabilitasnya berada di angka 15,3 persen.
Survei ini dilakukan oleh Tim Litbang Kompas dengan melibatkan 1.364 responden yang dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistimatis bertingkat di 38 provinsi di Indonesia dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin eror kurang 2,65 persen. Biaya survei, sepenuhnya dari Litbang Kompas.
Agung menjelaskan, Anies-Muhaimin konsisten mengusung tema perubahan dan Prabowo-Gibran melanjutkan program pemerintahan Jokowi. “Ganjar-Mahfud gamang di tengah kondisi PDI-P yang berkoalisi namun rasa oposisi atas Presiden Jokowi,” ujarnya.
Sebelumnya, PDI-P gencar menyerang Presiden Jokowi terkait sikap politiknya yang mendukung Prabowo-Gibran. Serangan itu semakin gencar dilakukan kader-kader PDI-P pasca Gibran resmi ditetapkan sebagai pasangan Prabowo Subianto di Pilpres 2024. (AE)