menitindonesia – MEMASUKI masa kampanye sudah terlihat bahwa survey paslon 02 Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka, angkanya terpaut jauh dari paslon lainnya. Yang menarik adalah hasil survey signifikan dengan prosentasi peta koalisi partai.
Perolehan suara Prabowo-Gibran terpaut jauh berdasarkan quick count dan real count KPU (dari Sirekap suara masuk 78%), hasilnya pun signifikan dengan peta koalisi partai. Kekuatan koalisi partai tampaknya tidak menjadi perhatian sebagian kita termasuk yang aktif bicara capres di medsos.
Mungkin karena tidak menyadari peran partai pengusung yang memiliki jaringan di seluruh Nusantara dari pusat hingga tingkat RT RW, dalam dan luar negeri. Semakin banyak partai yang berkoalisi semakin banyak Caleg yang berjuang mempromosikan dan memenangkan capresnya hingga tingkat RT dan RW. Bahkan door to door mendatangi keluarga, teman, kerabat karena keinginan kuat untuk terpilih sebagai caleg.
Koalisi Indonesia Maju yang mengusung Prabowo-Gibran, jumlah kursinya di dewan sebanyak 261 kursi atau 45,39 %. Dari segi jumlah dukungan memang jumlahnya sudah terpaut jauh, dengan koalisi partai paslon lainnya.
Sebagian kita, mengandalkan medsos dalam promosi capres, padahal pengamat sudah sering mengulas bahwa masih ada sekitar 30% warga kita buta medsos. Sebagian lainnya memilih model menyebar editan, video, gambar, narasi yang memojokkan Prabowo-Gibran, menganggap itu sudah cukup menggerus pemilih paslon no 2 ini untuk beralih ke paslon lain.
Ini sebenarnya konsekwensi dari pilihan untuk bersama mengeroyok paslon no 2 tetapi tidak sadar bahwa itu justru menjadi titik balik kesadaran sebagian pemilih yang mengetahui bahwa itu adalah kerjasama membangun serangan tetapi sering menggunakan informasi yang keliru.
Kombinasi capres cawapres tua dan muda, Prabowo-Gibran diuntungkan karena ada potensi menarik pemilih muda yang merasa terwakili dan jumlahnya cukup besar dan potensial untuk menambah kemenangan.
Namun, yang menjadi faktor utama yang sangat menentukan adalah potensi dasar untuk menang dari masing- masing capres itu sendiri. Ukuran yang paling dapat digunakan adalah survey terhadap peluang masing-masing capres sebelum ada penetapan cawapres.
Hal ini juga luput dari perhatian sebagian kita karena ada sebagian berpersepsi abaikan survey karena itu bisa diatur. Mari kita lihat kembali survey yang dirilis 10 oktober 2023 oleh Poltracking Indonesia: PS vs AB : 51,2 : 28,3 dan PS vs GP : 46,1% : 39,8%. Survey LSI
PS vs AB : 50,2% : 26,0% dan PS vs GP : 45,7% : 34,4%.
Jadi potensi dasar Prabowo melawan dua capres lainnya sebelum ada cawapres dan sebelum masa kampanye, oleh dua surveyer di atas Prabowo dinilai sudah mengantongi peluang menang dengan range antara 45,7% – 51,2%.
Pasangan Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo-Gibran saat menyampaikan pidato mengawal kemenangan satu putaran di Istora Senayan Jakarta Rabu (14/2/2024). (ist)
Dapat dipahami mengapa survey PS memiliki modal dasar yang cukup tinggi. Karena Prabowo mendirikan partai sejak 2008. Berarti sejak itu pula, Prabowo sudah memiliki jaringan di seluruh nusantara dan luar negeri. Partainya kemudian masuk tiga besar dari seluruh partai yang ada.
Kemampuan membangun dan merawat partai juga menunjukkan Ketokohan PS.
Selain memiliki kekuatan sebagai leader. Ini juga menunjukkan bahwa Prabowo taat aturan karena menurut UU seorang tokoh yang ingin maju sebagai capres, harus diusung oleh partai yang memiliki minimal 20% kursi (presidential threshold) di DPR RI.
Sekali lagi presidential threshold itu adalah persyaratan yang diatur oleh UU sejak 2003, tetapi sebagian kita, sepertinya tampak abai soal keberadaan partai.
Kemampuan Prabowo membangun dan merawat partai sejak 2008 hingga menjadi tiga besar juga mencerminkan bahwa Prabowo memiliki sumber daya internal yang cukup memadai, sebagai salah satu dasar yang diperlukan untuk menopang seorang tokoh jika ingin maju berkontestasi untuk meminimalisir peran oligarki.
Modal dasar itulah sangat menentukan apakah sang tokoh dapat membangun sendiri koalisi partai. Karena itu, yang menentukan apakah seorang tokoh kelak dapat menjadi nakhoda dalam mengelola kekuasaan atau akan menjadi sekedar pekerja partai?
Sebagian kita lupa bahwa pekerja partai dan oligarki menjadi perbincangan masyarakat siang malam selama hampir sepuluh tahun, dan hal tersebut telah menghabiskan energy positif bangsa ini bahkan sudah cenderung membelah masyatakat kita.
Disamping itu, nama Prabowo sudah dikenal masyarakat karena aktivitas di ketentaraan dan kegiatan lainnya, baik oleh masyarakat perkotaan maupun pedesaan, termasuk sudah ikut kontestasi sebagai capres 2014 dan 2019.
Pilihan bergabung dengan pemenang Pilpres 2019 adalah pilihan yang tidak lazim. Hal tersebut juga sempat menjadi topik bahasan menarik di kalangan masyarakat perkotaan.
Pilihan bergabung tersebut menanggung resiko ditinggal oleh sebagian pendukung, tetapi di sisi lain pilihan tersebut dinilai membuktikan kemampuan Prabowo mengedepankan kepentingan dan keutuhan bangsa dari kepentingan pribadi dan kelompok.
***
Akibat selisih hasil survey yang cukup jauh dari paslon lainnya, tampaknya mendorong lawan membuat serangan kepada Prabowo yang begitu dahsyat. Serangan massif tersebut selama ini tanpa disadari malah justru memberi efek ilusi media kepada Prabowo.
Serangan kemudian semakin bertambah setelah penetapan Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Jokowi, sebagai cawapres. Padahal PDI-P yang ikut mendorong ke MK perubahan syarat umur cawapres karena semula berencana Ganjar berpasangan dengan Gibran. Bahkan, Partai NasDem pun, pernah mengisyaratkan Anies berpasangan dengan Gibran. Dan, Anies pun sudah pernah melobby Gibran.
Karena itu serangan gencar kepada Prabowo yang memilih berpasangan dengan Gibran selama ini tidak efektif. Publik mengetahui bahwa pada hakekatnya, Ganjar dan Anies sebelumnya juga minat berpasangan dengan Gibran.
Kemudian serangan pelanggaran HAM yang sengaja di pertahankan dan digunakan menyerang Prabowo setiap lima tahun, walau sudah ada penjelasan bahwa Prabowo tidak terlibat. Termasuk Keputusan Pemberhentian Dengan Hormat dari Presiden Habibie dan Mahkamah Internasional Den Haag tahun 2016, sebagai lembaga dibawah PBB, keputusannya tidak melibatkan Prabowo Subianto sebagai pelanggar HAM 1998.
Akibat serangan tersebut, justru malah membuat banyak pihak yang berbalik memberi dukungan kepada PS.
Pada debat capres, seharusnya masyarakat disuguhi tontonan bagaimana visi misi Indonesia ke depan yang ingin dibangun oleh masing masing capres yang bisa mendorong kita menjatuhkan pilihan.
Dalam melontarkan kritik seharusnya yang dipertontokan kepada publik adalah sindiran yang disampaikan dalam bahasa yang indah, sebagaimana layaknya debat capres di AS yang banyak menggunakan pilihan kata yang sangat memukau hingga terkesan mereka semua adalah para penikmat karya Shakespiere.
Sebaliknya, debat capres yang dipertontonkan kepada kita bukan hanya tidak memilih bahasa yang indah dalam mengeritik seperti debat di AS, bahkan jalannya debat pun terkesan menggunakan gaya petinju Mike Tyson yang bernafsu merubuhkan lawan di ronde awal.
Dan yang tidak kalah menarik adalah kedua capres memberi penilaian kepada salah satu capres dengan angka 5 dan 11 dari 100, dengan gaya parodi.
Begitu banyak di antara kita yang tidak berkenan menyaksikan calon presiden bergaya parodian, lalu bekerjasama mengeroyok lawan debatnya. Dari penelusuran ke beberapa pendukung di daerah, ternyata banyak yang menangis haru menyaksikan Prabowo dihinakan seperti itu depan publik.
Yang tidak kalah aneh adalah beredarnya video pertemuan dua capres sebelum debat yang mungkin dimaksudkan sebagai psywar bahwa dua capres akan bekerjasama dalam menyerang Prabowo-Gibran?
Kejadian tersebut diduga justru membuat banyak dari pemilih malah justru balik berpihak kepada capres yang dianggap dikeroyok dan di dzolimi.
PDI-P dikenal memiliki pemilih tradisional yang fanatik. Menurut hitungan pengamat sekitar 11 – 12 %, PDI-P memiliki perolehan kursi yang terbesar.
Perkiraan Paslon 03 (Ganjar Mahfud), perolehannya cukup berarti karena mereka adalah pengusung Jokowi bersama NasDem, tetapi mungkin serangan kepada Jokowi yang dimaksudkan untuk menyerang Prabowo-Gibran begitu kencang termasuk memojokkan Jokowi di depan publik membuat sebagian Jokower atau Projo justru beralih ke Paslon 02, Prabowo-Gibran.
Meski Connie dan Dirty Vote menjadi senjata terakhir, tetapi iron dome pertahanan pemilih sudah jauh lebih kuat. Justru mulut manis Connie dan drama framing pristiwa Dirty Vote semakin membuat perlawanan bagi akal sehat untuk menumbangkan kapitalisasi asumsi. (*)